Tuesday, 27 August 2019

PUISI

- Berusaha -

Bunyi detik jam yang tak terhenti
Terdengar, membangkitkan ingatanku
Mencari satu titik celah, satu per satu
Yang dapat ku masuki

Bunyi detik jam itu tetap terdengar
Ku masih di satu titik
Mencoba mendapatkannya
Namun, ikhlas menjadi kata untuk tetap

Berusaha kembali

@ristiani_jv


Thursday, 16 August 2018

PREEKLAMPSIA

ANALISIS JURNAL
Penelitian oleh Garovic (2013) pada naskah volume 15 No 2 hal 1-14 diterbitkan bulan April 2013 yang dipublikasikan pertama kali secara online dalam Curr Hypertens Rep. pada tanggal 1 April 2014 dengan judul Preeclampsia and the Future Risk of Hypertension: The Pregnant Evidence, menyebutkan bahwa preeklamsia mungkin berdampak pada kesehatan perempuan di luar kehamilan mereka, dan dikaitkan dengan peningkatan risiko hipertensi dan penyakit kardiovaskular di masa depan, seperti penyakit jantung koroner dan stroke.
Preeklampsia merupakan hipertensi yang terjadi setelah 20 minggu kehamilan pada wanita yang sebelumnya memiliki tekanan darah normal. Hipertensi yang ditemukan dengan tekanan sistolik ≥ 140 mmHg atau tekanan diastolik ≥ 90 mmHg dengan pemeriksaan dua kali dengan jarak 6 jam dan terdapat proteinuria ≥0,3 gram/24 jam atau 1+ dipstick (Miller, 2007).
Pada hipertensi dalam kehamilan kehilangan daya refrakter terhadap bahan vasokonstriktor, dan ternyata terjadi peningkatan kepekaan terhadap bahan-bahan vasopresor. Artinya, daya refrakter pembuluh darah terhadap bahan vasopresor hilang sehingga pembuluh darah menjadi sangat peka terhadap bahan vasopresor. Peningkatan kepekaan pada kehamilan yang akan menjadi hipertensi dalam kehamilan, sudah dapat ditemukan pada kehamilan dua puluh minggu. Fakta ini dapat dipakai sebagai prediksi akan terjadinya hipertensi dalam kehamilan (Prawirohardjo, 2009)
Diagnosa preeklampsia berdasarkan adanya hipertensi dan proteinuria, edema ataupun keduanya. Hipertensi biasanya timbul lebih dahulu daripada tanda yang lain . Penyakit ini didiagnosa berdasarkan tanda-tanda disfungsi endotel maternal yang tersebar luas. Pada kehamilan normal, sebagian sel-sel sitotropoblast plasenta menghentikan aktifitas perubahan yang tidak sesuai yang menyebabkan infasi ke rahim dan pembuluh darahnya. Proses ini menyebabkan melekatnya konseptus pada dinding rahim dan memulai aliran darah ibu ke plasenta. Preeklampsia berhubungan dengan perubahan sitotropoblas abnormal, infasi dangkal dan penurunan aliran darah ke plasenta (Tarigan, 2008).
Preeklampsia ditandai dengan hilangnya keadaan normal dari volume intravaskukar, penurunan dari kadar normal volume sirkulasi darah, dan berkurangnya vasopressor pembuluh darah seperti angiotensin 2. Preeklampsia juga ditandai dengan meningkatnya cardiac output dan rendahnya tahanan vaskular sistemik (Miller, 2007).
Volume plasma pada Preeklampsia menurun dengan penyebab yang tidak diketahui. Timbulnya hipertensi karena pelepasan vaskonstriktor yang dihasilkan sebagai kompensasi terhadap hipoperfusi darah pada uterus. Oleh sebab itu tidak dianjurkan pemberian diuretik. Secara umum pada preeklampsia terjadi kenaikan cardiac output dengan peningkatan tahanan perifer yang tidak sesuai. Wanita dengan kehamilan normal resisten te rhadap angiotensin II. Wanita-wanita yang mengalami preeklampsia resistensi terhadap angiotensin II menurun beberapa minggu sebelum terjadi hipertensi.
Terjadinya hipertensi pada Preeklampsia dapat dijelaskan sebagai berikut (Tanjung, 2014):
1.    Terjadinya hipertensi disebabkan vasokonstriksi pembuluh darah yang menyebabkan resistensi vaskuler perifer meningkat.
2.    Vasokonstriksi terjadi karena hiper responsif dari pembuluh darah terhadap vasokonstriktor terutama terhadap angiotensin II.
3.    Terdapat ketidakseimbangan antara vasokonstriktor dan vasodilator dimana vasokonstriktor meningkat seperti angiotensin II, endotelin, tromboksan dan produksi vasodilator menurun seperti nitrous oksida, prostasiklin dan endothelium-derived relaxing factor (EDRF).
4.    Terjadi kerusakan/disfungsi endotel pembuluh darah sehingga produksi vasokonstriktor seperti endotelin meningkat dan vasodilator seperti prostasiklin dan EDRF menurun.
5.    Endotel menghasilkan sitokin yang menurunkan aktivitas antioksidan.
Kehamilan merupakan sesuatu yang diharapkan oleh setiap wanita yang telah menikah. Kehamilan merupakan tanda keberkahan dari Alloh SWT kepada seorang wanita wanita sebagaimana disebutkan dalam hadits yang diriwayatkan oleh imam Muslim yang artinya :
“Salah satu tanda keberkahan wanita itu ialah pernikahannya, cepat kehamilannya dan ringan pula maharnya”.(HR.Muslim)
Mengingat pentingnya kehamilan dalam pernikahan maka sudah menjadi kewajiban bagi ibu, suami dan semua anggota keluarga untuk mensyukuri kehamilan yang ada serta berusaha semaksimal mungkin untuk menjaga kesehatan ibu dan bayi agar terhindar dari komplikasi kehamilan seperti hipertensi dan preeklampsia.

PREEKLAMPSIA


ANALISIS JURNAL
Berdasarkan jurnal “New Developments In The Pathogenesis Of Preeclampsia” atau perkembangan baru dari patogenesis preeklamsi menyatakan bahwa 3-5% dari semua kehamilan preeklamsi merupakan penyebab utama ibu dan perinatal mengalami morbiditas dan mortalitas di seluruh dunia. Gangguan ini ditandai oleh konstelasi tanda dan gejala, salah satunya adalah  hipertensi dan proteinuria selama trimester terakhir pada kehamilan.  Pada mekanisme molekuler preeklampsia dapat terjadi dengan penekanan pada peran protein anti-angiogenik yang beredar dalam patogenesis preeklampsia .
Menurut jurnal tersebut, pathogenesis pada preeklamsi yaitu pada placenta, karena plasenta merupakan pusat patogenesis preeklamsia, kelahiran plasenta adalah salah satu cara terapi untuk penanganan ibu hamil dengan preeklamsi, karena pada plaenta adalah penyebab dari preeklamsi. Pada ibu hamil Faktor yang meningkatkan risiko preeklampsia adalah riwayat sebelumnya preeklampsia, hipertensi kronis, penyakit ginjal kronis, diabetes pregestational, kehamilan multipel, obesitas, dan usia> 40 tahun. Faktor lainnya termasuk pasangan (suami), wanita yang mempunyai keturunan dari ayahnya/ keluarganya dan penyakit kardiovaskular di kemudian hari.
Dalam jurnal ini juga mengungkapkan bahwa preeklamsia sebagian dari ketidakseimbangan antara faktor pro-angiogenik dan anti-angiogenik beredar pada sirkulasi darah, Dua faktor antigen angiogenik beredar di plasenta yang disebut sebagai tirosin kinase 1 yang larut seperti fase 1 atau sFlt1) dan endoglin terlarut (sEng) yang meningkat.  Kadar protein angiogenik dalam darah (sFlt1, PlGF dan sEng) diubah pada wanita dengan preeklampsia baik sebelum tanda klinis dan gejala penyakit, konsisten dengan peran patogen untuk faktor angiogenik ini pada preeklamsia terjadi pada wanita obesitas dan hipertensi kronis dapat membuat peka endotelium pembuluh darah ibu ke efek anti-angiogenik (sFlt1 dan sEng) oleh karena itu dapat terjadi penyakit preeklamsia. ini karena wanita obesitas cenderung memiliki sirkulasi rendah sFlt1dan sEng.
Pengobatan yang dilakukan dalam penelitian adalah menggunakan dekstran sulfat apheresis  dan hormon relaxin karena mampu memperpanjang tiga kehamilan preeklampsia 2-4 minggu, mengakibatkan persalinan aman tidak  adanya kematian ibu atau bayi, karena tingkat sFlt1 terlarut menurun  sebesar 30% rata-rata dan memperbaiki vascular dalam pengaturan didalam urin. faktor anti-angiogenik plasenta berasal seperti sFlt-1 dan sEng berperan dalam perkembangan sindroma ibu terhadap preeklampsia. Identifikasi dan karakterisasi faktor anti-angiogenik beredar pada preeklampsia penyakit memungkinkan pemahaman yang lebih baik tidak hanya patogenesis, namun telah meningkat berharap bahwa daerah penelitian ini akan mengarah pada identifikasi awal dan terapi spesifik di masa depan, segera diperlukan lebih banyak pekerjaan untuk menentukan regulasi pembuluh darah plasenta pengembangan dan ekspresi faktor angiogenik ini secara normal dan preeklampsia kehamilan. Setelah kehamilan, wanita dengan preeklamsia memiliki risiko lebih tinggi mengembangkan hipertensi, penyakit ginjal.

PREEKLAMPSIA

PREGNANCY OUTCOMES IN YOUNGER AND OLDER ADOLESCENT MOTHERS WITH SEVERE PREECLAMPSIA
ANALISIS JURNAL INTERNASIONAL

Priscila E Parra et.al. (2017) dengan judul penelitian “Pregnancy outcomes in younger and older adolescent mothers with severe preeclampsia”. Jurnal ini membahas terkait remaja yang sudah menjadi ibu beresiko tinggi mengalami preeklampsi. Tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk menguraikan hasil ibu dan bayi baru lahir di antara kehamilan remaja tunggal dengan preeklamsia berat di rumah sakit dengan tingkat pendapatan rendah dan bandingkanhasil menurut umur. Kehamilan selama masa remaja adalah beban yang signifikan dibandingkan dengan orang dewasa karenaketidakmatangan fisik dan tumpang tindih pertumbuhan ibu, status gizi, sosial ekonomi faktor, penyalahgunaan pasangan dan kelebihan beban emosional. Prevalensi preeklamsia mungkin terjadidua kali lebih tinggi pada remaja. Pada wanita muda, preeklamsia dan eklampsia meningkatkan risiko ibu buruk (yaitu, komplikasi berat, morbiditas, ibu  kasus yang hampir meninggal dan persalinan sesar) dan hasil perinatal (yaitu kelahiran prematur, pembatasan pertumbuhan intrauterine [IUGR], berat lahir rendah dan penerimaan secara intensifunit perawatan).
Hasil sampling didapatkan ibu dan bayi dari 213 ibu remaja dengan preeklamsia berat yang mengantarkan pada Enrique C. Sotomayor Obstetrics dan Rumah Sakit Ginekologi (Guayaquil, Ekuador), kemudian dilakukan analisis dan dibandingkan sesuai usianya (16 atau kurang tahun, n = 82 vs 17-19 tahun, n = 131).
Berdasarkan sampling didapatkan hasil tingkat seksio sesar sangat tinggi pada kedua kelompok yang diteliti; Jika tidak, hasil obstetritidak berbeda dan tidak ada kematian ibu atau komplikasi berat. Hasil neonatal merugikan dalam dua kelompok yang dibuktikan dengan tingginya tingkat kelahiran prematur, kecil untuk kehamilandan bayi dengan berat lahir rendah, skor Apgar dan skor masuk pertama pada neonatalperawatan intensif; Namun, tidak berbeda secara signifikan antara kelompok yang dianalisis. SanaTidak ada kematian neonatal di kalangan ibu berusia 16 atau kurang dan 4 di kelompok berusia 17-19 tahun.
Kesimpulan dari jurnal ini bahwa tingkat preeclampsia dilihat dari segiumur meningkat pada ibu yang hamil dengan usia masih muda (remaja), dan factor resiko untuk janin yang dikandungnya antara lainya : pertumbuhan janin terganggu, bahkan memungkinkan berat badan bayi rendah, sehingga mempengaruhi tingkat kesejahteraan janin.

PLASENTA PREVIA


ANALISIS JURNAL
Plasenta previa adalah plasenta yang menutupi jalan lahir. Plasenta previa dikategorikan menjadi dua yaitu plasenta previa lengkap dan tidak lengkap. Plasenta previa lengkap didefinisikan sebagai plasenta yang benar-benar menutupi ostium serviks internal dengan margin plasenta > 2 cm dari ostium. Plasenta previa yang tidak lengkap terdiri dari plasenta previa parsial dan marginal. Plasenta previa parsial didefinisikan saat plasenta sebagian tertutup, namun margin plasenta terletak dalam 2 cm os internal. Plasenta previa marginal didefinisikan ketika margin plasenta terletak bersebelahan dengan os internal, dengan plasenta tidak menutupi ostium. Pada penempelan plasenta previa di uterus terdiri dari dua yaitu anterior dan posterior.
Prevalensi dari plasenta previa sekitar 0,5% dari seluruh kehamilan dan hal tersebut menambah angka kelahiran dengan seksio cesarea. Plasenta previa adalah adalah satu kegawatdaruratan yang bisa menyebabkan morbiditas dan mortalitas karena berisiko perdarahan pada persalinan dan juga kelahiran prematur sedangkan bayi prematur sangat berisiko untuk mengalami infeksi, ikterus, sianosis dan penyakit lainnya.
Dari 162 wanita yang termasuk dalam penelitian ini, 71 (43,8%) memiliki plasenta previa lengkap dan 91 (56,2%) memiliki plasenta previa yang tidak lengkap, tiga puluh satu wanita (19,1%) memiliki posisi plasenta anterior dan 131 (80,9%) memiliki posisi plasenta posterior. Tidak ada perbedaan yang signifikan dalam karakteristik ibu antara wanita dengan plasenta previa lengkap dan tidak lengkap, kecuali pada tingkat sesar sebelumnya, yang lebih tinggi pada wanita dengan plasenta previa lengkap dibandingkan dengan plasenta previa yang tidak lengkap.
Plasenta previa dapat berisiko untuk terjadi perdarahan antepartum dan juga terjadi persalinan prematur. Perdarahan antepartum lebih banyak terjadi pada wanita dengan plasenta previa lengkap dibandingkan dengan plasenta previa yang tidak lengkap (59,1% berbanding 17,6%). Akibatnya, kejadian kelahiran prematur lebih tinggi pada wanita dengan plasenta previa lengkap dibandingkan pada plasenta previa yang tidak lengkap (45,1% berbanding 8,8%), dengan kejadian persalinan yang lebih tinggi sebelum 34 minggu kehamilan pada plasenta previa lengkap (18,3% berbanding 1,1%). Kejadian berat lahir <2500 g dan <2000 g meningkat pada wanita dengan plasenta previa lengkap.
Dalam penelitian ini, hanya 19,1% wanita yang menunjukkan posisi plasenta anterior. Tingkat rendah ini menunjukkan bahwa jaringan plasenta lebih disukai berkembang pada dinding uterus posterior pada plasenta previa. Sebuah studi sebelumnya melaporkan bahwa kejadian migrasi plasenta lebih tinggi dan tingkat migrasi lebih cepat pada wanita dengan plasenta anterior previa. Selain itu, posisi plasenta anterior dilaporkan berkaitan dengan multiparitas dan riwayat lebih dari dua seksio sesarea. Di sisi lain, kejadian plasenta akreta secara signifikan lebih tinggi pada kelompok anterior, terlepas dari jenis plasenta previa. Delapan dari sepuluh pasien dengan plasenta akreta (80%) berada di kelompok anterior, dan enam dari delapan pasien (75%) dengan plasenta anterior plasenta memiliki seksio sesarea sebelumnya. Ini sesuai dengan laporan sebelumnya, yang menunjukkan bahwa plasenta accreta berkembang melalui implantasi plasenta akibat bekas luka sesar.
Penelitian ini juga mengungkapkan bahwa usia gestasi pada perdarahan secara signifikan lebih tinggi pada kelompok anterior pada wanita dengan plasenta previa lengkap. Akibatnya, kejadian persalinan prematur dan berat lahir rendah secara signifikan lebih tinggi pada kelompok anterior. Menariknya, pada wanita dengan plasenta previa yang tidak lengkap, posisi plasenta anterior tidak secara signifikan mempengaruhi hasil perinatal seperti onset perdarahan dan kelahiran prematur. Hasil ini menunjukkan bahwa posisi plasenta anterior memberikan risiko perdarahan awal dan persalinan prematur yang luar biasa hanya pada wanita dengan plasenta previa lengkap.
Sumber:
Sekiguchi, A. 2013. Type dan Location of Plasenta Previa Affect Preterm Delivery Risk Related to Anterpartum Hemorrhage. (online). (https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pmc/articles/PMC3804794, diakses pada tanggal 17 Oktober 2017 pukul 20.00 WIB)


PENYAKIT JANTUNG SELAMA KEHAMILAN


ANALISIS JURNAL
The Heart During Pregnancy
Selama dalam masa kehamilan ada sejumlah perubahan pada fungsi kardiovaskuler yang diperlukan untuk perkembangan kehamilan, selain itu ada kondisi dimana kardiovaskuler dapat diperburuk oleh adaptasi yang terjadi pada saat kehamilan. Jumlah wanita hamil pada resiko komplikasi kardiovaskuler meningkat sangat signifikan, sehingga identifikasi faktor-faktor resiko yang memprediksi masalah kardiofaskuler seharusnya di lakukan pemeriksaan awal sehingga mengurangi angka kejadian hipertensi pada kehamilan.
Pada sejumlah wanita yang mengalami hipertensi harus menunda kehamilan sampai tekanan darah sedikit turun. Faktor yang berkaitan dengan peningkatan hipertensi pada saat kehamilan karena sebelumnya pernah mengalami hipertensi. Pada pasien yang mengalami hipertensi harus mendapatkan istirahat yang cukup dan perbaikan kondisi kesehatan. Pada saat persalinan pasien harus melakukan oprasi SC (section Cesarea) karena jika dengan persalinan normal akan mengalami kejang.Pada pasien yang mengalami hipertensi pada saat kehamilan harus dalam pemantauan dokter kandungan dan dokter spesialis jantung untuk memantau kehamilannya, guna meningkatkan kesejahteraan ibu dan janin.

PENGOBATAN ANEMIA PADA IBU HAMIL


ANALISIS JURNAL
Comparative study of oral iron and intravenous iron sucrose for the
treatment of iron deficiency anemia in pregnancy
Menurut jurnal yang saya ambil membahas tentang pemberian zat besi secara oral dan sukrosa besi secara IV untuk pengobatan anemia pada ibu hamil. Anemia merupakan salah satu maslah kesehatan utama yang di alami oleh masyarakat di dunia, dimulai dari masa kecil, masa remaja, hingga pada kehamilan.
            Anemia pada ibu hamil dimana kadar Hb di bawah 11g/dl (WHO), pada trimester ke-2 memasuki priode perubahan psikologi trimester ke-3, Hb pada ibu hamil di sarankan tidak di bawah 10,5 g/dl. Ada beberapa penyebab yang dapat menyebabkan anemia, seperti gizi buruk, kurangnya zat besi, malaria, infeksi, bahkan HIV. 4,5 anemia juga disebabkan oleh gagal jantung, preeklamsia, perdarahan antepartum, perdarahan postpartum, sepsis nifas, kegagalan laktasi, penyembuhan luka yang tertunda. Anemia merupakan salah satu penyebab utama kematian pada ibu 20% penyebab secara langsung dan 20% secara tidak langsung.
            Megingat tingginya angka anemia yang di alami pada ibu hamil sehingga merupakan hal utama yang harus di tangani. Terdapat dua cara pengobatan anemia yang di guanakan, yaitu dengan cara pemberia zar besi secara oral dan sukrosa besisecara IV. Dari dua cara pengobatan tersebut pemberian sukrosa besi secara IV lebih cepat meningkatkan kadar Hb di bandingkan dengan pemberian zat besi secara oral. Pembeian zat besi secara IV di bawah pengawasan tenaga kesehatan merupakan cara pengobatan anemia yang lebih baik, selain pemberian sukrosa besi IV aman untuk di berikan, juga merupakan carayang optimal untuk mengurangi angka anemia yang di alami oleh perempuan.