Thursday, 5 April 2018

MEMBANTAH ASUMSI FLAT EARTH (BUMI DATAR)


ULAMA ISLAM BERBICARA TENTANG FLAT EARTH
Ibnu Taimiyah, Ibnu Hazm, Ibnu Utsaimin, dan Ibnu Baz
Penyusun : Abu Salma Muhammad Rachdie, S. Si
Al-Wasathiyah wal J’tihal Digital Publishing
2017
Alwasathiyah.com/ebooks

BANTAHAN TERHADAP ASUMSI FLAT-EARTH
Paparan Syaikhul Islam Ibnu
Taimiyah
PERTAMA
Syaikhul Islam menukilkan pendapat Abul Husain Ibnul Munādī rahimahullāhu sbb :

Al-Imām Abūl Husain Ahmad bin Ja’far bin al-Munādī, dari pembesar ulama yang masyhūr dengan pengetahuannya tentang atsar dan tashānīf (tulisan-tulisan) utama dalam bidang ilmu dīniyah dari tingkatan kedua sahabat-sahabatnya Imam Ahmad:
”Tidak ada perbedaan pendapat di kalangan para ulama bahwa langit itu juga seperti bola (spherical)”
Beliau juga mengatakan :
”Demikian pula para ulama bersepakat bahwa bumi itu berikut pergerakannya dari daratan dan lautan adalah seperti bola.”
Beliau berkata kembali :
”Yang menunjukkan hal ini (bumi berbentuk bola, pent.) adalah bahwa matahari dan bulan serta bintang itu tidaklah mengalami terbit dan tenggelam dari kesemua ufuk (ujung) bumi dalam satu waktu. Namun terjadinya di wilayah timur dulu sebelum maghrib.”
[Majmū’ al-Fatāwā XXV/195]

KEDUA
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah rahimahuAllāhu pernah ditanya tentang adanya dua orang yang saling berdebat mengenai “bentuk (kaifiyat) langit dan bumi”, apakah keduanya berbentuk fisik seperti bola?

Salah seorang dari mereka beranggapan bentuknya seperti bola, dan yang satu langit mengingkarinya dan mengatakan pendapat tsb tidak memiliki asal. Lantas mana yang benar?
Maka Syaikhul Islam menjawab :
“Langit itu berbentuk bulat menurut ulama kaum muslimin. Dan telah diriwayatkan adanya ijma kaum muslimin mengenai hal ini oleh lebih dari satu orang ulama dan imam Islam.
Seperti Abūl Husain Ahmad bin Ja’far bin al-Munādī, salah satu pembesar senior tingkatan kedua dari sahabat Imam Ahmad, dan beliau memiliki 400 mushonnaf (karya tulis)
Diriwayatkan pula ijma ini, Imam Abū Muhammad bin Hazm dan Abūl Faraj bin al-Jauzī. Para ulama meriwayatkan pendapat ini (yaitu bumi itu seperti bola, pent.) dengan sanad yang dikenal dari para sahabat dan tabi’in. Mereka juga menyebutkan dalildalilnya dari Kitābullah dan sunnah Rasulullah. Mereka memaparkan pendapat tentang bulatnya bumi ini
dengan dalil-dalil sam’iyyah (pendengaran atau ghaibiyah). Walaupun juga dalildalil hisābiyah (berdasarkan pengamatan dan perhitungan) sudah menunjukkan hal ini.

Saya belum pernah tahu ada ulama kaum muslimin yang dikenal, yang mengingkari bulatnya bumi. Kecuali sekelompok kecil dari tukang debat. Dimana mereka mendebat para ahli astronomi dengan metode tajwīz (asumsi “bisa jadi”), yaitu “bisa jadi” berbentuk persegi, segi tiga atau bentuk lainnya. Mereka juga tidak mengingkari (bahwa bumi) bisa jadi juga
berbentuk bulat. Namun, mereka membolehkan pendapat yang berlawanan. Tidaklah ku ketahui orang yang berpendapat bahwa bumi itu tidak bulat dan ia memastikannya, melainkan ia hanyalah orang pandir…”

[Majmū’ al-Fatāwā VI/586]

Paparan Imam Ibnu Hazm
Pengakuan penjelasan bulatnya bumi
Abū Muhammad bin Hazm rahimahullāhu berkata :
Karena itulah mereka mengutarakan : Sesungguhnya berbagai bukti secara valid menunjukkan bahwa bumi itu bulat, sedangkan orang-orang awam beranggapan selain ini. Maka jawaban kami dengan memohon taufik dari Allāh Ta’ālå :
Bahwa seorang imam kaum muslimin yang memang layak disematkan dengan sebutan imămah (kepemimpinan) di dalam ilmu – semoga Allăh merahmati mereka – tidak ada yang mengingkari bulatnya bumi. Tidaklah ada riwayat dari mereka yang menolak pendapat ini. Bahkan berbagai argumentasi di dalam Al-Qur’an dan sunnah menunjukkan bulatnya bumi…
Mereka menyampaikan sejumlah dalil mengenai hal ini…

[Al-Fashlu fîl Milal wal Ahwă wan Nihal II/78]
Diantara dalil yang menunjukkan bulatnya bumi, adalah firman Allåh Ta’ålå :
Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia menggulung malam atas siang dan menggulung siang atas malam (QS az-Zumar : 5)
Ibnu Hazm dan selain beliau, berdalil dengan ayat ini. Yaitu kata yukawwiru (menggulung) itu pasti berbentuk melingkar membulat seperti kaur (bula).

Paparan Syaikh Ibnu ‘Utsaimin
Beliau rahimahullåhu berkata :
Bumi itu bulat ( spherical) dengan dalil AlQur’an, realita dan ucapan para ulama. Adapun dalil Al-Qur’an, adalah firman Allåh Ta’ålå :
Dia menciptakan langit dan bumi dengan (tujuan) yang benar; Dia menggulung malam atas siang dan menggulung siang atas malam.
Kata takwîr (menggulung) itu artinya menjadikan sesuatu tergulung (bulat), seperti menggulung surban. Suatu hal yang sudah diketahui bahwa malam dan siang itu saling berputar bergantian di atas bumi, hal ini berkonsekuensi bahwa bumi itu realitanya bulat.
Karena jika anda menggulung sesuatu di atas sesuatu, sedangkan bumi adalah sesuatu yang digulung di atasnya, maka hal ini melazimkan bahwa sesuatu yang bisa menggulung di atas bumi, maka bumi tersebut tentunya bulat.
Adapun dalil wåqi’ (fakta), maka hal ini adalah suatu hal yang sudah terbukti. Apabila ada seseorang terbang (dengan pesawat) dari Jeddah menuju arah barat, maka ia akan kembali ke Jeddah dari arah timur selama dalam garis lurus. Ini adalah fakta yang tidak diperdebatkan lagi oleh dua orang.
Adapun ucapan para ulama, mereka menyebutkan (dalam hukum waris, pent.) bahwa apabila ada seorang pria wafat di wilayah timur saat terbenam matahari, dan ada seorang lagi wafat di wilayah barat juga pada saat terbenamnya matahari, dan diantara kedua orang tersebut dipisahkan jarak, maka orang yang mati di wilayah barat saat matahari terbenam tadi berhak mewarisi orang yang mati di wilayah timur tadi walau sama-sama terbenamnya matahari jika ia memang ahli warisnya. Hal ini menunjukkan bahwa bumi itu bulat. Karena jika bumi itu datar (flat), maka konsekuensinya terbenamnya matahari di seluruh arah terjadi dalam satu waktu sekaligus.
Apabila hal ini ditetapkan, maka tidaklah mungkin bagi seseorang mengingkarinya. Tidaklah menjadi problem firman Allåh Ta’ålå :
Tidaklah mereka memperhatikan unta bagaimana ia diciptakan? Dan langit bagaimana ia ditinggikan? Dan gunung bagaimana ia dipancangkan? Dan bumi bagaimana ia dihamparkan? (QS alGhåsyiah : 17-20)
Karena bumi itu sangat besar ukurannya. Dan penampakan bulatnya tidak bisa dilihat di jarak yang berdekatan. Hal ini sebatas pandangan jarak yang tampak terhampar luas, yang tidak mengharuskan adanya keraguan untuk berdiam di atasnya, Dan tidak pula menolak bentuknya yang bulat. Karena fisiknya besar sekali. Namun, bukan artinya mereka berpendapat bahwa bulatnya itu sama semua sisinya. Namun ada yang lebih cembung di area Utara dan Selatannya. Mereka berpandangan bentuknya ellipse (bulat telur), yaitu bentuknya seperti telur lebih panjang di bagian utara dan Selatannya.
[Fatåwå Nůr ‘alad Darb]
IslamQA berkomentar :
Dari sini dapat Anda ketahui bahwa bentuk bumi itu adalah bulat, tidak menafikan bentuknya yang elips. Sesungguhnya pendapat yang batil itu adalah asumsi bahwa bumi itu datar (flat) sebagaimana yang diyakini gereja. Karena itulah kaum gereja mengutuk dan membakar orang
yang berpendapat bulatnya bumi dari kalangan ilmuwan.

[lihat : al-‘Ilmåniyah Nasy’atuhå wa Tathowwuruhå I/130.
Wallåhu a’lam.

PENDAPAT SYAIKH IBNU BAZ
Menguak Dusta bahwa Syaikh Ibnu Bāz
berpendapat bumi itu datar

Telah menyebar adanya klaim dusta dari para pengusung dan pendukung asumsi flat-earth bahwa diantara para ulama yang membenarkan pendapat bumi itu rata adalah Syaikh Ibnu Bāz rahimahullāhu.
Syaikh DR ‘Āshim al-Qaryūtī hafizhahuAllāhu memberi klarifikasi sebagai berikut: Syaikh Ibnu Bāz rahimahullāhu menetapkan dan menyatakan bahwa bumi itu bulat sebagaimana ulama Islam lainnya.
Syaikhul Islam Ibnu Taimiyah telah menukilkan adanya konsensus atas hal ini di sejumlah buku beliau, diantaranya buku al-Ursyiyah, Dar’u Ta’ārudhil Naqli wal Aqli (VI/339), dan bisa dilihat pula di Risālah fīl Hilāl dari Majmū’ al-Fatāwā beliau (XXV/195).
Ibnu Katsīr juga menukilkan ijma’nya hal ini di dalam al-Bidāyah wan Nihāyah, sebagaimana tersebut di dalam Āfaqul Hidāyah (I/173).
Namun anehnya, ada saja fitnah yang menimpa Syaikh Ibnu Bāz rahimahullāhu semasa hidupnya bahwa beliau dikatakan mengingkari akan bulatnya bumi. Padahal Syaikh memiliki pendapat yang sama dengan ulama Islam lainnya tentang hal ini.
Saya pernah bertanya kepada beliau langsung kurang lebih sekitar tahun 1395 H atau 1394 H tentang masalah ini, dan beliau diklaim memiliki buku yang berjudul: Al-Bāz al-Munqidh ‘ala man qōla bikurwiyatil Ardhi (Sanggahan Ibnu Baz  terhadap yang berpendapat bulatnya
bumi). Lantas beliau pun terheran-heran karenanya dan menjadi murka lantaran kedustaan ini.”
[Kaukabah min A’immatil Hudā wa Mashōbih ad-Dajå hal. 167]

Syaikh ‘Abdul ‘Azīz bin Bāz rahimahullāhu sendiri pernah mengklarifikasi hal ini.
Beliau berkata :
Adapun artikel yang disebarkan mengenai diriku di Majalah As-Siyāsah yang menukil dari ulasan yang ditulis oleh para jurnalis dan penulis at-Tajammu’ at-Taqoddumī di Mesir berupa pengingkaran diriku terhadap mendaratnya manusia di bulan dan saya menvonis kafir orang yang berpendapat seperti ini! Atau pendapat bahwa bumi itu bulat atau beredar! Maka ini semua adalah DUSTA dan fitnah!! Tidak ada dasar kebenarannya! Bisa jadi orang yang menukil tidak sengaja bermaksud untuk berbuat dusta, namun dia tidak melakukan verifikasi sebelum menukil.
Padahal, ucapanku (mengenai hal ini) tercetak dan tersebar. Saya menjelaskan di dalamnya bantahan terhadap orang yang mendarat ke permukaan bulan, alih-alih mengkafirkan orang yang berpendapat demikian.
Saya hanya menjelaskan bahwa kewajiban bagi orang yang tidak tahu agar bersikap tawaqquf (diam) dan tidak serta merta membenarkannya.
Saya juga menjelaskan bagi orang yang tahu agar juga bersikap abstain (tawaqquf), tidak membenarkan dan tidak juga mendustakan hingga sampai padanya informasi yang dapat menentukan hal ini. Saya pun juga menetapkan di dalam pendapatku tersebut sebagaimana yang kunukil dari al-Allāmah Ibnul Qoyyim rahimahullåhu yang menetapkan bahwa bumi itu bulat.
Adapun tentang peredaran bumi, maka saya memang mengingkarinya dan saya terangkan kebatilannya dengan dalildalilnya. Namun saya tidak pernah mengkafirkan orang yang berpendapat demikian.
Akan tetapi yang saya kafirkan adalah orang yang berpendapat bahwa matahari itu stagnan tidak bergerak. Karena pendapat ini menentang secara nyata alQur’an al-Karim dan sunnah nabi yang suci, yang menunjukkan bahwa matahari dan bulan itu beredar… (selesai)
[Majmū’ Fatāwā wa Maqōlāt asy-Syaikh Ibnu Bāz IX/228]


Tentang Penerjemah
Nama Lengkap : Moch Rachdie Pratama, S.Si
Email                : abusalma81@hotmail.com

Wednesday, 4 April 2018

PREEKLAMPSIA DALAM KEHAMILAN


a.    Definisi Preeklampsia
Preeklampsia adalah hipertensi yang muncul setelah kehamilan berusia 20 minggu dengan proteinuria (0,3 gram protein selama 24jam atau 30 mg/dl dengan hasil reagen urine ≥ 1) (Setiawan, 2016). Preeklampsia adalah sekumpulan gejala yang spresifik hanya muncul selama kehamilan dengan usia lebih dari 20 minggu (Varney, 2010). Preeklampsia adalah penyakit dengan tanda-tanda khas tekanan darah tinggi (hipertensi), disertai protein dalam urine (proteinuria) dengan atau tanpa edema yang timbul karena kehamilan. Penyakit ini umumnya terjadi dalam trimester ketiga kehamilan, tetapi dapat juga terjadi pada trimester kedua kehamilan. Sering tidak diketahui oleh wanita hamil yang bersangkutan, sehingga tanpa disadari dalam waktu singkat terjadi Preeklampsia berat bahkan dapat menjadi eklampsia yaitu dengan tambahan gejala kejang-kejang atau koma (Prawirohardjo, 2011).
Studi Hernandez, et. al (2009) mengemukan bahwa Preeklampsia merupakan kelainan umum pada kehamilan dengan prevelensi 2-8% kehamilan. Center for Maternal And Child Enquiries (CMACE) memperkirakan bahwa kejadian Preeklampsia tujuh kali lebih tinggi terjadi di negara-negara berkembang (CMACE, 2011). Menurut Chuningham (2014), Preeklampsia merupakan sindrom spesifik kehamilan berupa kurangnya perfusi organ akibat vosospasme dan aktifitas endotel.
Menurut English, et al (2015), masyarakat insternasional untuk studi hipertensi dalam kehamilan mendefinisikan Preeklampsia sebagai hipertensi dengan tekanan darah 140/90 mmHg pada dua kesempatan terpisah dalam 4 jam disertai dengan proteinuria setidaknya 0,3 gram dalam urine selama 24 jam (atau 0,30 mg/mmol protein/kreatinin) yang timbul setelah usia kehamilan 20 minggu hingga 6 jam post partum. Preeklampsia adalah peningkatan tekanan darah yang baru timbul setelah usia kehamilan mencapai 20 minggu disertai penambahan berat badan ibu yang cepat akibat tubuh membengkak dan pada pemeriksaan dijumpai proteinurin di dalam urine (Fadlun, 2014).
b.    Etiologi Preeklampsia
Penyebab dari Preeklampsia dan eklampsia sampai sekarang belum diketahui, terdapat banyak teori yang mencoba menerangkan sebab dari Preeklampsia dan eklampsia. Tetapi tidak ada satupun dari teori tersebut yang dianggap mutlak benar. Menurut Prowirohardjo (2008) teori-teori tersebut antara lain:
1)      Teori kelainan vaskularisasi plasenta
Penyebab hipertensi kehamilan tidak terjadi invasi trofoblas pada lapisan otot arteri spiralis dan jaringan matrik sekitarnya. Lapiran arteri spiralis menjadi tetap kaku dan keras seningga lumen arteri spiralis tidak memungkinkan mengalami distensi dan vasodilatasi. Akibatnya arteri spiralis relatif mengalami vasokontraksi dan terjadi kegagalan “remodeling arteri spiralis” sehingga aliran darah uteroplasenta menurun menyababkan terjadinya hipoksia dan iskhemia plasenta.
2)      Teori iskhemia plasenta, radikal bebas dan disfungsi endotel
Plasenta yang mengalami hipoksia dan iskhemia akan menghasilkan oksigen (disebut radikal bebas). Salah satu oksidan penting yang dihasilkan plasenta iskhemia adalah radikal hidroksil yang sangat toksis, khususnya terhadap membran sel endotel pembuluh darah. Radikal hidroksil akan merusak membran sel yang mengandung banyak asam lemak tak jenuh menjadi peroksida lemak. Peroksida lemak sebagai oksigen/radikal bebas sangat toksis ini akan beredar di seluruh tubuh dalam aliran darah akan merusak membran sel endotel. Salah satu fungsi sel endotel adalah memproduksi prostaglandin. Jika terjadi gangguan metabolisme prostaglandin maka akan terjadi penurunan produksi prostasiklin yang merupakan vasodilatator kuat. Sehingga kadar tromboksan lebih tinggi dan terjadi vasokontraksi yang menyebabkan terjadinya kenaikan tekanan darah.
3)      Teori intoleransi imunologik antara ibu dan janin
Pada wanita hamil normal respon imun tidak menolak adanya hasil konsepsi yang bersifat asing.hal ini sebabkan karena adanya Human Leucocyte Antigen Protein G (HLA-G) yang berperan penting dalam medulasi imun, sehingga ibu tidak menolak hasil konsepsi (plasenta). Selain itu HLA-G merupakan prakondisi untuk terjadinya invasi trofoblas ke dalam jaringan desidua ibu. Pada hipertensi kehamilan terjadi penurunan ekspresi HLA-G. Berkurangnya HLA-G di desidua daerah plasenta menghambat invasi trofoblas ke dalam desidua. Invasi trofoblas sangat penting agar jaringan desidua menjadi lunak dan gembur, sehingga memudahkan terjadinya dilatasi arteri spiralis. Apabila invasi trofoblas ke dalam desidua terhambat kemunngkinan terjadi immune-maladaptation preeklampsia.
4)      Teori adaptasi kardiovaskuler
Pada hipertensi dalam kehamilan kehilangan daya refrakter terhadap bahan-bahan vasokonstriktor dan terjadi peningkatan kepekaan terhadap bahan-bahan vasopresor. Artinya daya rafrakter pembuluh darah terhadap bahan vasopresor hilang sehingga pembuluh darah menjadi sangat peka terhadap bahan vasopresor. Peningkatan kepekaan daya refrakter pada kehamilan yang akan menyebabkan terjadinya hipertensi dalam kehamilan.
5)      Teori stimulus inflamasi
Pada Preeklampsia terjadi peningkatan stress oksidatif, sehingga produksi debris apoptosis dan nekrotik trofoblas meningkat. Makin banyak sel trofoblas plasenta, misal : plasenta besar, hamil ganda, maka reaksi oksidatif akan sangat meningkat. Keadaan ini menimbulkan beban reaksi inflamasi dalam darah ibu menjadi lebih besar yang menimbulkan gejala-gejala Preeklampsia pada ibu.
6)      Teori faktor genetik
Beberapa bukti menunjukan peran faktor genetik pada kejadian Preeklampsia antara lain sebagai berikut:
a)    Preeklampsia hanya terjadi pada manusia.
b)   Terdapat kecenderungan meningkatnya frekuensi Preeklampsia pada anak-anak dari ibu yang menderita preeklampsia.
c)    Kecenderungan meningkatnya frekuensi Preeklampsia pada anak-anak dan cucu ibu hamil dengan riwayat Preeklampsia dan bukan pada ipar mereka.
d)   Peran renin-angiotensin-aldosteron system (RAAS) (Rukiyah, 2010).
c.    Tanda dan Gejala Preeklampsia
Menurut Berzon dan Pernoll   (2008), Preeklampsia ditandai denga  adanya hipertensi, edema generalisasi dan proteinuria tanpa penyakit vaskular atau renal. Tanda dan gejala muncul sejak minggu ke-20 kehamilan sampai minggu ke-6 setelah melahirkan.
Menurut Rozikhan (2007), tanda dan gejala preekalmpsia adalah sebagai berikut :
1)      Sakit kepala yang keras karena vasospasmus atau edema otak.
2)      Sakit di ulu hati karena regangan di ulu hati oleh haemorrhagia atau edema, atau sakit karena perubahan pada lambung.
3)      Gangguan penglihatan : penglihatan menjadi kabur bahkan kadang-kadang pasien menjadi buta. Gangguan ini disebabkan vasospasmus, edema, atau ablatio retina. Perubahan ini dapat dilihat dengan ophtalmoscop.
4)      Gangguan pernapasan samapi sianosis
5)      Pada keadaan berat akan diikuti gangguan kesadaran.
d.   Klasifikasi Preeklampsia
Preeklampsia dibagi dalam Preeklampsia ringan dan Preeklampsia berat. Preekampsia ringan masih dapat berobat jalan dengan diet rendah garam dan kontrol setiap minggu. Disamping itu berikan nasehat bila keruhan makin meningkat maka disarankan untuk segera kembali melakukan pemeriksaan ke pelayanan kesehatan. Preeklampsia berat merupakan kelanjutan dari Preeklampsia ringan (Armagustini, 2010). Sedangkan menurut Indriani (2012) Preeklampsia dibagi menjadi beberapa golongan yaitu :
                      1)Preeklampsia ringan bila disertai keadaan sebagai berikut :
a)    Tekanan darah 140/90 mmHg atau kenaikan diatolik 15 mmHg atau lebih atau kenaikan sistolik 30 mmHg atau lebih pada usia kehamilan 20 minggu dengan riwayat tekanan darah sebelumnya normal.
b)   Proteinuria 0,3 gr per liter atau kuantitatif 1+ atau 2+ pada urine kateter atau midtream.
                      2)Preeklampsia berat, bila disertai keadaan sebagai berikut :
a)    Tekanan darah 160/110 mmHg atau lebih.
b)   Proteinuria 5 gr per liter atau lebi dalam 24 jam atau kuantitatif 3+ atau 4+ .
c)    Oliguria yaitu jumlah urine <500 cc dalam 24 jam.
d)   Adanya gangguan serebral, gangguan penglihatan, dan rasa nyeri di epigastrium.
e)    Terdapat edema paru dan sianosis hati.
f)    Pertumbuhan janin terhambat.
   Menurut Sujiyatini, dkk (2009) Preeklampsia di bedakan menjadi Preeklampsia ringan dan Preeklampsia berat, yaitu :
1)   Preeklampsia ringan adalah timbulnya hipertensi disertai proteinuria atau edema setelah 20 minggu atau segera setelah persalinan. Dengan disertai tanda dan gejala sebagai berikut :

a)    Tekanan darah
Kenaikan tekanan darah sistolik 30 mmHg atau diastolik 15 mmHg (dari tekanan darah sebelum hamil).
b)   Proteinuria : secara kuantitatif lebih dari 0,3 gr/liter dalam 24 jam atau secara kualitatif +1 atau +2.
c)    Edema : edema generalista (edema pada kaki, tangan, muka dan perut).
d)   Kenaikan berat badan 1 kg atau dalam seimbang.
2)   Preeklampsia berat adalah suatu komplikasi yang ditandai dengan timbulnya hipertensi 160/110 mmHg atau lebih disertai proteinuria atau edema pada kehamilan 20 minggu atau lebih.
e.    Patofisiologis Preeklampsia
  Menurut  Manuaba (2010: 262) di dalam Nita Norma dan Mustika Dwi S (2013), perubahan patologis berbagai organ penting dijabarkan sebagai berikut:
1)   Perubahan hati. perdarahan yang tidak teratur, terjadi nekrosis, trombosis pada lubus hati.
2)   Rasa nyeri di epigastrium karena perdarahan subkapsuler.
3)   Retina. Spasme arteriol, edema sekitar diskus optikus, ablasio retina (lepasnya retina), menyebabkan penglihatan kabur.
4)   Otak. Spasme pembuluh darah arteriol otak menyebabkan anemia jaringan otak, perdarahan dan nekrosis, menimbulkan nyeri kepala yang berat.
5)   Paru-paru. Berbagai tingkat edema, bronkopneumonia sampai abses menimbulkan sesak nafas sampai sianosis.
6)   Jantung. Perubahan degenerasi lemak dan edema, perdarahan sub endokardinal, menimbulkan dekompensasi kordis sampai terhentinya fungsi jantung.
7)   Aliran darah ke plasenta. Spasme arteriol yang mendadak menyebabkan asfiksia berat sampai kematian janin. Spasme yang berlangsung lama, menggangu pertumbuhan janin.
8)   Perubahan ginjal. Spasme arteriol menyebabkan aliran darah ke ginjal menurun sehingga filtrasi glomerulus berkurang penyerapan air dan garam tubulus tetap, terjadi retensi air dan garam, edema pada tungkai dan tangan, paru dan organ lain.
9)   Perubahan pembuluh darah. Permeabilitasnya terhadap protein makin tinggi sehingga terjadi vasasi protein ke jaringan, protein ekstra vaskuler menarik air dan garammenimbulkan edema, hemokonsentrasi darah yang menyebabkan gangguan fungsi metabolisme tubuh dan thrombosis.


DAFTAR PUSTAKA

Prawirohardjo, S.2011. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prowirohardjo.
Hernandez. D. S. 2009. Risk of Pre-Eclampsia in First and Subsequent Pregnencies: Proepective Cohort Study, British Medical Jurnal 2009;338:b2255.
English, A. Fred. Louise C Kenny, Fergus P Mccarthy. 2015. Risk Factors And Effective Management Of Preeclampsia, Inegated Blood Preassure Control. PLOS ONE.
Fadlun dan Feryanto, A. 2014. Asuhan Kebidanan Patologi. Jakarta: Salemba Medika.
Rukiyah, dkk. 2010. Asuhan Kebidanan 4 (Patologi Kebidanan). Jakarta: Trans Info Medika
Indriani, Nanien. 2012. Analisis Faktor-Faktor Yang Berhubungan Dengan Preekalmpsia/Eklampsia Pada Ibu Bersalin Di Eumah Sakit Umum Daerah Kardinah Kota Tegal Tahun 2012. Skripsi. Fakultas Kesehatan Masyarakat Program Studi Kebidanan Komunitas. Depok
Manuaba, I.A.C. 2010. Pengantar Kuliah Obstetri. Jakarta: Buku Kedokteran EGC.




KEHAMILAN


a.    Definisi Kehamilan
Menurut Federasi Obstetri Ginekoloigi Internasional, kehamilan didefinisikan sebagai fertilisasi atau penyatuan dari spermatozoa dan ovum dan dilanjutkan dengan nidasi atau implantasi. Bila dihitung dari fase fertilitas hingga lahirnya bayi, kehamilan normal akan berlangsung dalam waktu 40 minggu atau 10 bulan lunar atau 9 bulan menurut kalender internasional. Kehamilan berlangsung dalam tiga trimester, trimester satu berlangsung dalam 13 minggu, trimester kedua 14 minggu (minggu ke-14 hingga ke-27), dan trimester ketiga 13 minggu (minggu ke-28 hingga ke- 40).
b.    Tanda Pasti Kehamilan
Tanda pasti kehamilan meliputi : terdapat gerakan janin di dalam rahim, teraba bagian dan gerakan-gerakan janin, terdengar denyut jantung janin menggunakan leanex, alat kardiotokografi dan menggunakan doppler, pemeriksaan menggunakan rontgen ditemukan kerangka janin (Manuaba,2010).
c.    Diagnosa Kehamilan
Menurut Pawiroharjo  2011, diagnosa kehamilan adalah sebagai berikut :
1)      Uji hormonal kehamilan Produksi chorionic gonadotropin (hCG) oleh sel-sel sinsisiotrofoblas terjadi masa awal kehamilan, kemudian disekresi melalui urin ibu hamil, hCG dapat terdeteksi sekitar 26 hari setelah konsepsi dan meningkat pada hari ke 30-60 usia kehamilan. Puncak hCG terjadi sekitar 60-70 hari usia kehamilan.
2)      Perubahan anatomik dan fisiologik kehamilan Masa awal kehamilan terdapat peningkatan hormon estrogen dan progesteron, menyebabkan hipertrofi miometrium diikuti peningkatan jaringan elastin dan akumulasi dari jaringan fibrosa, menyebabkan uterus kuat terhadap regangan dan distensi saat proses kehamilan. Vaskularisasi dan pembuluh limfatik meningkat, menyebabkan perubahan pada wanita hamil seperti : tanda chadwick, goodell dan hegar.
d.   Komplikasi Dalam Kehamilan
1)      Trimester pertama
Perdarahan kehamilan muda mengakibatkan kehamilan berhenti atau keguguran, seperti terjadi abortus, blighted ovum, kehamilan ektopik dan mola hidatidosa (Prawirohardjo, 2011).  Kelainan tempat implantasi  (kehamilan ektopik) merupakan kehamilan dengan hasil konsepsi tidak menempel pada endometrium (Mochtar, 2013). Hiperemesis gravidarum merupakan keadaan mual muntah berat (Mochtar, 2013). Kehamilan dengan hiperemesis akan mengakibatkan ibu menjadi dehidrasi, hipokalemia, alkalosis, dan penurunan berat badan (Tanto, 2014).
2)      Trimester kedua
Diabetes melitus kehamilan, peningkatan berlebih kadar glukosa, peningkatan baru terdeteksi saat hamil (Tanto, 2014). Hipertensi kehamilan, hipertensi disertai protein urine, tekanan darah akan kembali normal setelah 3 bulan melahirkan (Prawirohardjo, 2011).
3)      Trimester ketiga
Perdarahan usia kehamilan lanjut terjadi saat usia kehamilan lebih dari 20 minggu (Tanto, 2014), seperti kasus : plasenta previa, solusio placenta, dan rupture uteri (Prawirohardjo, 2011).
DAFTAR PUSTAKA
Manuaba, I.A.C. 2010. Pengantar Kuliah Obstetri. Jakarta: Buku Kedokteran EGC.
Prawirohardjo, S.2011. Ilmu Kebidanan. Jakarta: Yayasan Bina Pustaka Sarwono Prowirohardjo.