Wednesday, 22 January 2020

DISTOSIA BAHU

ANALISIS JURNAL
Distosia bahu ialah kelahiran kepala janin dengan bahu anterior macet diatas sacral promontory karena itu tidak bisa lewat masuk ke dalam panggul atau bahu tersebut bisa lewat promontorium, tetapi mendapat halangan dari tulang sakrum. Distosia bahu adalah keadaan darurat obstetrik yang jarang terjadi dengan kejadian yang dikutip mulai dari 0,58 sampai 0,7%. Dalam singkat  beberapa menit, ini bisa menyebabkan morbiditas janin dan kematian. Upaya untuk mengidentifikasi distosia bahu dengan pilihan operasi caesar untuk mengembalikan faktor risiko dengan manuver rendah yang jarang digunakan karena tingginya tingkat keberhasilan dari manuver yang kurang invasif. Unsur umum antara berbagai algoritma adalah melakukan manuver McRoberts dan tekanan suprapubik pada contoh pertama, dan kegagalan  metode ini harus diikuti oleh manuver lain seperti metode rotasi pengiriman lengan posterior dan semua manuver.
Distosia bahu adalah suatu keadaan diperlukannya manuver obstetrik oleh karena bayi dengan tarikan biasa ke arah belakang pada kepala bayi tidak berhasil untuk melahirkan bayi. Pada persalinan dengan presentasi kepala, setelah kepala lahir bahu tidak dapat dilahirkan dengan cara pertolongan biasa dan tidak didapatkan sebab lain dari kesulitan tersebut (Sarwono Prawirohardjo, 2011).
Faktor Risiko
Bayi cukup bulan pada umumnya memiliki ukuran bahu yang lebih lebar dari kepalanya, sehingga mempunyai risiko terjadinya distosia bahu. Risiko akan meningkat dengan bertambahnya perbedaan-perbedaan antara ukuran badan dan bahu dengan ukuran kepalaya. Pada bayi makrosomia, perbedaan ukuran tersebut lebih besar dibanding bayi tanpa makrosomia, sehingga bayi makrosomia lebih beresiko. Dengan demikian, kewaspadaan terjadinya distosia bahu diperlukan pada setiap pertolongan persalinan dan semakin penting bila terhadap faktor-faktor yang meningkatkan risiko makrosomia. Adanya DOPE (diabetes, obesity, prolonged pregnancy, excessive fetal size or maternal weight gain) akan meningkatkan risiko kejadian. Keadaan intrapartum yang banyak dilaporkan berhubungan dengan kejadian distosia bahu adalah kala I lama, partus macet, kala II lama, stimulasi oksitosin, dan persalinan vaginal dengan tindakan. Meskipun demikian, perlu disadari bahwa sebagian besar kasus distosia bahu tidak dapat di prediksi dengan tepat sebelumnya. Upaya pencegahan distosia bahu dan cedera dapat ditimbulkannya dapat dilakukan dengan cara :
1.    Tawarkan untuk dilakukan bedah sesar pada persalinan vaginal berisiko tinggi. Janin luar biasa besar (>5 kg), janin sangat besar (>4,5 kg) dengan ibu diabetes, janin besar (>4kg) dengan riwayat distosia bahu pada persalinan sebelumnya, kala II yang memanjang dengan janin besar.
2.    Identifikasi dan obati diabetes pada ibu.
3.    Selalu bersiap bila sewaktu-waktu terjadi
4.    Kenali adanya distosia seawal mungkin. Upaya mengejan, menekan suprapubis atau fundus dan traksi berpotensi meningkatkan resiko cedera pada janin.
5.    Perhatikan waktu dan segera minta pertolongan begitu distosia bahu diketahui. Bantuan diperlukan untuk membuat posisi McRoberts, pertolongan persalinan, resusitasi bayi dan tindakan anastesia (bila perlu).
Distosia bahu dapat dikenali apabila didapatkan :
1.    Kepala bayi sudah lahir, tetapi bahu tertahan dan tidak dapat dilahirkan.
2.    Kepala bayi sudah lahir, tetapi tetap menekan vulva dengan kencang.
3.    Dagu tertarik dan menekan perineum.
4.    Traksi pada kepala tidak berhasil melahirkan bahu yang tetap tertahan di kranial simfisis pubis.
Penatalaksanaan
Diperlukn seorang asisten untuk membantu, sehingga segeralah minta bantuan. Jangan melakukan tarikan atau dorongan sebelum memastikan bahwa bahu posterior sudah masuk ke panggul. Bahu posterior yang belum melewati pintu atas panggul akan semakin sulit di lahirkan bila dilakukan tarikan pada kepala. Untuk mengendorkan ketegangan yang menyulitkan bahu posterior masuk panggul tersebut, dapat dilakukan episiotomi yang luas, posisi McRobert atau dada-lutut. Dorongan pada fundus juga tidak diperkenankan karena semakin menyulitkan bahu untuk dilahirkan dan berisiko menimpulkan rupture uteri. Disamping perlunya asisten dan pemahaman yang baik tentang mekanisme persalinan, keberhasilan pertolongan persalinan dengan distosia bahu juga ditentkan oleh waktu. Setelah kepala lahir akan terjadi penurunan pH arteria umbulikalis dengan laju 0,04 unit/menit. Dengan demikian, pada bayi yang sebelumnya tidak mengalami hipoksia tersedia waktu antara 4-5 menit untuk melakukan manuver melahirkan bahu sebelum terjadi cedera hipoksik pada otak.
Secara sistematis tindakan pertolongan distosia bahu adalah sebagai berikut :
1.    Minta bantuan tenaga kesehatan lain, untuk menolong persalinan dan resusitasi neonatus bila diperlukan. Bersiaplah juga untuk kemungkinan perdarahan pascasalin atau robekan perineum setelah tatalaksana.
2.    Lakukan manuver McRobert. Dalam posisi ibu berbaring telentang, mintalah ia untuk menekuk kedua tungkainya dan mendekatkan lututnya sejauh mungkin ke arah dadanya. Mintalah bantuan 2 orang asisten untuk menekan fleksi kedua lutut ibu ke arah dada.
3.    Mintalah salah seorang asisten untuk melakukan tekanan secara simultan ke arah lateral bawah pada daerah suprasimfisis untuk membantu persalinan bahu.
4.    Dengan memakai sarung tangan yang telah didisinfeksi tingkat tinggi, lakukan tarikan yang mantap dan terus menerus ke arah aksial (searah tulang punggung janin) pada kepala janin untuk menggerakkan bahu depan di bawah simfisis pubis.
5. Jika bahu masih belum dapat dilahirkan :
a)    Buatlah episiotomi untuk memberi ruangan yang cukup untuk memudahkan manuver internal.
b)   Pakailah sarung tangan yang telah didisinfeksi tingkat tinggi, masukkan tangan ke dalam vagina pada sisi punggung bayi.
c)    Lakukan penekanan di sisi posterior pada bahu posterior untuk mengadduksikan bahu dan mengecilkan diameter bahu.
d)   Rotasikan bahu ke diameter oblik untuk membebaskan distosia bahu.
e)    Jika diperlukan, lakukan juga penekanan pada sisi posterior bahu anterior dan rotasikan bahu ke diameter oblik.
6. Jika bahu masih belum dapat dilahirkan setelah dilakukan tindakan di atas:
a)      Masukkan tangan ke dalam vagina.
b)      Raih humerus dari lengan posterior, kemudian sembari menjaga lengan tetap fleksi pada siku, pindahka lengan ke arah dada. Raih pergelangan tangan bayi dan tarik lurus ke arah vagina. Manuver ini akan memberikan ruangan untuk bahu anterior agar dapat melewati bawah simfisis pubis.
Jika semua tindakan di atas tetap tidak dapat melahirkan bahu, terdapat manuver-manuver lain yang dapat dilakukan, misalnya kleidotomi, simfisiotomi,metode sling atau manuver Zavanelli. Namun manuver-manuver ini hanya boleh dikerjakan oleh tenaga terlatih. Maneuver Mc Robert sebagai pilihan utama adalah sangat beralasan, karena manuver ini cukup sederhana, aman, dan dapat mengatasi sebagian besar distosia bahu derajat ringan sampai sedang.
Rekomendasi
Langkah penanganan distosia bahu sangat direkomendasikan menggunakan teknik Manuver McRobert sebagai pilihan utama karena manuver ini cukup sederhana, aman dan dapat mengatasi sebagian besar bahu derajat ringan sampai sedang. Persalinan dengan distosia bahu tidak boleh dilakukan oleh sembarang orang karena  harus dikerjakan oleh tenaga terlatih. Mengingat komplikasi diatas, maka sangat diperlukan konseling antenatal yang memadai, melakukan pelatihan stimulasi dan pengawasan ketenagakerjaan yang lebih baik, serta melatih tenaga kesehatan untuk penanganan distosia bahu dalam kegawatdaruratan persalinan agar mempermudah dalam menangani kasus distosia bahu.

Sumber :
Lisnawati, L. 2012. Asuhan Kebidanan terkini Kegawatdaruratan Maternal            dan Neonatal. Tasikmalaya : Trans Info Media
Lok, Z.L.Z., Yvonne, K.Y.C., dan Tak, Y.L. 2016. Predictive factors for the success of McRoberts’ manoeuvre and suprapubic pressure in relieving shoulder dystocia: a cross-sectional study. BMC Pregnancy and Childbirth 16:334
Prawirohardjo, S. 2011. Ilmu Kebidanan. Jakarta : PT Bina Pustaka Sarwono         Prawirohardjo.

DISTOSIA BAHU DAN PERDARAHAN PASCAPERSALINAN


ANALISIS JURNAL
DISTOSIA BAHU
According to the American College of Obstetricians and      Gynecologists (ACOG) menyatakan distosia bahu adalah ketidakmampuan            melahirkan bahu setelah kepala dilahirkan pada persalinan normal. Kondisi             ini merupakan kegawatdaruratan obstetri karena bayi dapat meninggal jika             tidak segera dilahirkan. Definisinya subyektif, suatu keadaan diperlukannya tambahan manuver obstetrik oleh karena dengan tarikan             biasa kearah belakang pada kepala bayi tidak berhasil untuk melahirkan bayi. Definisi obyektif distosia bahu adalah jarak waktu antara lahirnya     kepala dengan lahirnya badan bayi lebih dari 60 detik.
Diagnosis
Distosia bahu dapat dikenali apabila didapatkan adanya:
a.       Kepala bayi sudah lahir, tetapi bahu tertahan dan tidak dapat dilahirkan
b.      Kepala bayi sudah lahir, tetapi tetap menekan vulva dengan kencang atau bahkan tertarik kembali ( turtle sign)
c.       Dagu tertarik dan menekan perineum
d.      Traksi pada kepala tidak berhasil melahirkan bahu yang tetap tertahan di kranial simfisis pubis
Faktor Risiko
Bayi cukup bulan pada umumnya memiliki ukuran bahu yang           lebih lebar dari kepalanya, sehingga mempunyai risiko terjadi distosia bahu.          Risiko akan meningkat dengan bertambahnya perbedaan anatara ukuran             badan dan bahu dengan ukuran kepalanya. Pada bayi makrosomia, perbedaan ukuran tersebut lebih besar dibanding bayi tanpa makrosomia,     sehingga bayi makrosomia lebih berisiko. Dengan demikian, kewaspadaan             terhadap terjadinya distosia bahu diperlukan pada setiap pertolongan persalinan dan semakin penting bila terdapat faktor- faktor yang   meningkatkan risiko makrosomia seperti diabetes, obesity, prolonged          pregnancy, excessive fetal size or maternal weight gain. Selain itu faktor           risiko terjadinya distosia adalah riwayat distosia sebelumnya, diabetes pregestational atau gestasional, multiparitas, induksi persalinan, kala I dan kala II persalinan memanjang, dan persalinan pervaginam yang di tolong.
Terlepas dari beberapa faktor risiko yang diketahui ini, perlu dicatat            bahwa sebagian besar distosia bahu secara umum, tidak dapat diprediksi,    dan tidak dapat dipungkiri. Gross dan rekannya melaporkan sebuah model matematis yang menunjukkan bahwa hanya 16% dari semua distosia bahu dengan trauma neonatal bersamaan bisa diprediksi. Meskipun ini beberapa     faktor risiko yang di ketahui perlu dicatat bahwa sebagian distosia bahu   jarang tak terduga.
Pencegahan
Belum ada cara untuk memastikan akan terjadinya distosia bahu      pada suatu persalinan. Meskipun sebagian besar distosia bahu dapat di             tolong tanpa morbiditas, tetapi apabila menjadi komplikasi dapat     menimbulkan kekecewaan dan berpotensi terjadi tuntutan terhadap           penolong persalinannya. Untuk itu perlu mengetahui faktor- faktor terjadinya distosia bahu dan mengkomunikasikan akibat yang akan terjadi pada ibu serta keluarganya. Upaya pencegahan distosia bahu dan cidera     yang dapat ditimbulkannya dapat dilakukan dengan cara:
1.      Menawarkan pada ibu dan keluarga untuk dilakukan bedah sesar pada persalinan vaginal berisiko tinggi seperti janin besar > 5 kg, janin besar > 4.5 kg dengan ibu diabetes, janin besar > 4 kg dengan riwayat distosia bahu sebelumnya, kala II yang memanjang dengan janin besar.
2.      Identifikasi dan mengobati diabetes pada ibu
3.      Selalu siap bila sewaktu- waktu terjadi
4.      Kenali adanya distosia seawal mungkin. Upaya mengejan, menekan suprapubis atau fundus, dan traksi berpotensi meningkatkan risiko cidera pada janin.
5.      Perhatikan waktu dan segera meminta tolong begitu distosia diketahui. Bantuan diperlukan untuk membantu posisi McRobert, pertolongan persalinan, resusitasi bayi, dan tindakan anestesi (bila perlu).
Penatalaksanaan
Langkah pertama menurut RCOG, adalah untuk minta bantuan       tambahan Tim pendukung mungkin termasuk perawat tambahan, bidan,       dokter kandungan, subspesial obat maternal-janin, tim resusitasi neonatal,   dan ahli anestesi. Ketika asisten tambahan tiba, mereka harus diberi tahu      dengan jelas bahwa ini adalah situasi distosia bahu.
1.      Lakukan manuver McRobert. Dalam posisi ibu berbaring terlentang,            mintalah ia untuk menekuk kedua tungkainya dan mendekatkan             lututnya sejauh mungkin ke arah dadanya.
2.      Mintalah bantuan asisten untuk melakukan tekanan secara simultan             kearah lateral bawah pada daerah suprasimpisis untuk membantu           persalinan bahu.
3.      Jika bahu masih belum dapat dilahirkan. Lakukan episiotomi untuk             memberi ruang yang cukup untuk memudahkan manuver internal.
4.      Melakukan penekanan disisi posterior pada bahu posterior untuk     mengadduksikan bahu dan mengecilkan diameter bahu. Rotasikan       bahu kediameter roblik untuk membebaskan distosia bahu. Jika       diperlukan lakukan pula penekanan pada sisi posterior bahu anterior      dan rotasikan bahu ke diameter oblik
5.      Jika bahu masih belum dapat dilahirkan masukkan tangan kedalam vagina, kemudian temukan humerus dari lengan posterior lalu sembari   menjaga lengan tetap fleksi pada siku, pindahkan lengan kearah dada.             Raih pergelangan tangan bayi dan tarik lurus kearah vagina. Manuver          ini memberi ruang pada bahu anterior agar dapat melewati bawah      simfisis pubis.
6.      Jika semua tindakan diatas tidak dapat melahirkan bahu, terdapat    manuver- manuver laing yang dapat dilakukan, misalnya klediotomi,         simfisiotomi, metode sling atau manuver zavanelli. Namun manuver-             manuver ini hanya boleh dilakukan oleh tenaga yang terlatih dan ahli.
Beberapa cara dalam mengatasi distosia bahu yaitu dengan manajeman ALARMER dan 4P antara lain:
1.      Ask for help / Meminta bantuan
Diperlukan penolong tambahan untuk melakukan manuver McRoberts        dan penekanan suprapubik. Menyiapkan penolong untuk resusitasi           neonatus.
2.      Lift hyperflexed (McRoberts maneuvre)
Disiapkan masing-masing satu penolong di setiap sisi kaki ibu untuk membantu hyperfleksi kaki dan sekaligus mengabduksi panggul Memposisikan sakrum ibu lurus terhadap lumbal.
3.      Anterior shoulder disimpaction (suprapubic pressure)
Bahu bayi yang terjepit didorong menjauh dari midline ibu, ditekan            pada atas simfisis pubis ibu (Massanti maneuver). Tekanan suprapubik     ini dilakukan untuk mendorong bahu posterior bayi agar dapat             dikeluarkan dari jalan lahir dengan mendorong bahu depan kearah   dada dan menghasilkan diameter terkecil (Rubin maneuver)
4.      Rotation of the posterior shoulder (Wood’s screw maneuver)
Digunakan 2 jari untuk menekan sisi anterior bahu dan memutarnya            hingga 1800 atau oblique, dapat diulang jika diperlukan.
5.      Manual removal of the posterior arm (Schwartz maneuver)
Ditentukan siku lengan posterior bayi, difleksikan dengan tekanan pada fossa antecubital sehingga tangan bayi dapat dipegang. Tangan tersebut kemudian ditarik hingga melewati dada bayi sehingga        keseluruhan lengan dapat dilahirkan.
6.      Episiotomy
Prosedur ini secara tidak langsung membantu penanganan distosia   bahu,dengan memungkinkan penolong untuk meletakkan tangan        penolong ke dalam vagina untuk melakukan manuver lainnya.
7.      Roll over onto all fours
Langkah ini memungkinkan posisi bayi bisa bergeser dan terjadi      disimpaksi bahu anterior. Hal ini juga memungkinkan akses yang lebih         mudah untuk memutar bahu posterior atau bahkan melahirkannya             langsung.
            Jika manuver tersebut tidak ada yang berhasil, bisa disarankan untuk mematahkan klavikula bayi, simpisiotomi, manuver Zavanelli. Bila distosia bahu telah berhasil ditangani, maka dilakukan: penilaian bayi untuk mengetahui adanya trauma, analisa gas darah tali pusat, penilaian ibu untuk tears pada saluran genital, manajemen aktif kala III untuk mencegah perdarahan postpartum, mencatat manuver yang telah dilakukan, dan menjelaskan semua langkah yang telah dilakukan kepada ibu dan keluarg yang mungkin ada pada saat dilakukan penanganan.
Dalam pertolongan persalinan dengan distosia bahu ada 4 P yang perlu di hindari:
1.      Panic
2.      Pulling (menarik kepala)
3.      Pushing (mendorong pada fundus)
4.      Pivoting (memutar kepala secara tajam dengan koksigis sebagai       tumpuan)
Komplikasi
Komplikasi distosia bahu pada janin adalah fraktur tulang (klavikula dan humerus), cidera pleksus brakhialis, dan hipoksia yang menyebabkan        kerusakan permanen di otak. Dislokasi tulang servikalis yang fatal juga             dapat terjadi akibat melakukan tarikan dan putaran pada kepala dan leher. Fraktur tulang pada umumnya dapat sembuh sempurna tanpa sekuele, apabila didiagnosis dan dan diterapi dengan memadai. Cedera pleksus brakhialis dapat membaik dengan berjalannya waktu. Pada ibu komplikasi yang dapat terjadi adalah perdarahan akibat laserasi jalan lahir, episiotomi, ataupun atonia uteri.
PERDARAHAN PASCAPERSALINAN
Perdarahan pascapersalinan adalah perdarahan yang masif yang berasal dari tempat implantasi plasenta, robekan pada jalan lahir, dan jaringan sekitarnya dan merupakan salah satu penyebab kematian ibu. Perdarahan pascapersalinan primer terjadi dalam 24 jam pertama setelah persalinan, sementara perdarahan pascapersalinan sekunder adalah perdarahan pervaginam yang lebih banyak dari normal antara 24 jam hingga 12 minggu setelah persalinan. Diagnosis dari perdarahan pascapersalinan apabila perdarahan ≥ 500 ml setelah bayi lahir atau berpotensi mempengaruhi hemodinamik ibu.
Faktor Predisposisi
1.      Kelainan implantasi dan pembekuan plasenta: plasenta previa, solutio          plasenta, plasenta akreta/inkreta/perkreta, kehamilan ektopik, mola       hidatidosa.
2.      Trauma pada saat kehamilan dan persalinan: episiotomi, persalinan pervaginam dengan isntrumen forsep, bekas seksio sesar atau            histerektomi.
3.      Volume darah ibu yang kurang terutama pada ibu dengan berat badan        kurang, preeklamsia/eklamsia, sepsis atau gagal ginjal,
4.      Gangguan koagulasi
5.      Pada atonia uteri, penyebabnya antara lain uterus overdistensi          (makrosomia, kehamilan kembar, hidramnion, atau bekuan darah), induksi persalinan, persalinan lama, persalinan terlalu cepat, dan riwayat atonia uteri sebelumnya.
Penatalaksanaan
Pada penatalaksanaan perdarahan dilakukan sesuai dengan penyebab perdarahan, namun untuk penatalaksanaan awal antara lain:
1.      Meminta tolong tim untuk melakukan tatalaksana secara simultan
2.      Nilai sirkulasi, jalan nafas, dan pernafasan pasien
3.      Bila terjadi syok lakukan penanganan syok
4.      Memberikan oksigen
5.      Memasang infus dengan carian kristaloid
6.      Jika fasilitas tersedia, lakukan pengambilan sampel darah
7.      Lakukan observasi (Tekanan darah, nadi, suhu, pernafasan ibu,        kontraksi uterus, nyeri tekan, tinggi fundus uteri, cek jumlah         perdarahan, dan pengeluaran urin)
REKOMENDASI
Distosia bahu dan perdarahan pascapersalinan merupakan dua yang paling umum keadaan darurat yang dihadapi dalam praktik klinis kebidanan, keduanya membutuhkan penatalaksanaan segera dan manajemen untuk menghindari morbiditas dan mortalitas yang signifikan. Meskipun pasti risiko distosia bahu dan perdarahan pascapersalinan ada, banyak kasus terjadi pada tidak adanya faktor-faktor ini identifikasi dini, komunikasi, dan ketepatan dengan pilihan pengelolaan untuk kedua kondisi tersebut dapat secara signifikan meminimalkan morbiditas terkait dengan komplikasi ini.
Dalam artikel review tentang definisi dan kejadian distosia bahu di antara 28 publikasi dengan lebih dari 16 juta kelahiran total, presentasi distosia bahu adalah 0,4%. Sejak tahun 2000, dari semua kelahiran, tingkat distosia bahu mendekati 1.4% jika publikasi bergantung pada International Classification of Diseases (ICD). Perdarahan pascapersalinan terjadi pada sekitar 4% sampai 6% dari semua kehamilan. Royal College of Obstetricians and Gynecologists (RCOG) memperkirakan 3 dari 1000 mengalami pendarahan parah, yang didefinisikan sebagai penerimaan transfusi darah, histerektomi atau perbaikan bedah rahim. Pendarahan pascapersalinan, sejauh ini penyebab paling umum adalah atonia uteri atau ketidakmampuan uterus berkontraksi secara efektif, yang menyumbang lebih dari 80% kasus. Penyebab umum lainnya termasuk jaringan plasenta yang tertahan, trauma vagina atau serviks, dan diketahui atau berkembangnya koagulopati.
Dalam kasus distosia bahu dan perdarahan pascapersalinan, bidan harus mampu meningkatkan kemampuan dalam skreening kehamilan untuk mengetahui lebih awal kemungkinan terjadinya distosia bahu yang nantinya akan menjadi faktor predisposisi terjadinya perdarahan pascapersalinan. Dengan pemeriksaan rutin di bidan dan melakukan pemeriksaan USG dengan dokter spesialis obstetri dan ginekologi, terutama pada wanita yang memilki kehamilan dengan riwayat distosia bahu sebelumnya atau penyulit lainnya, untuk mengurangi insidens perdarahan pascapersalinan pendekatan yang berbeda dapat diterapkan, bergantung pada lingkungan dan ketersediaan dari pendamping persalinan yang terlatih dan persediaan yang ada. Manajemen aktif dari kala tiga persalinan (AMTSL) dengan seluruh pendamping persalinan terlatih. Komponen yang biasa terdapat pada AMTSL termasuk pemasukan oxytosin atau obat uterotonik lainnya dalam 1 menit setelah persalinan, traksi tali pusat terkendali, pemijatan uterus setelah pengeluaran plasenta. AMTSL merupakan salah satu cara yang efektif dan sederhana serta masih diterapkan sampai sekarang untuk pencegahan perdarahan pascapersalinan. Semakin tingginya angka kematian ibu dengan salah satu penyebabnya adalah perdarahan, diharapkan tenaga kesehatan mampu mengembangankan lagi ilmu- ilmu kesehatan.
Sumber:
Dahlke, Joshua D. Bhalwal, Asha. Chauhan, Suneet P. 2017. Obstetric Emergencies          Shoulder Dystocia And Postpartum Hemorrhage.Obstetrics and Gynecology             Clinics             of North America, Volume 44, Issue 2, June 2017, Pages        231-243[diakses tanggal 15    Oktober 2017 pukul 20.45 WIB dalam Elsevier]

Medical Mini Notes Production. 2014. Obstetric Make It Easy with Medical Mini                         Notes. Jakarta: Medical Mini Notes Production

Prawirohadjo, Sarwono. 2010. Ilmu Kebidanan. Jakarta: yayasan Bina Pustaka      Sarwono Prawirohadjo

Tuesday, 27 August 2019

KEHAMILAN EKTOPIK TERGANGGU


PENANGANAN KEHAMILAN EKTOPIK TERGANGGU

Trias gejala dan tanda  dari kehamilan ektopik adalah

1.         amenorrhea
2.         perdarahan abnormal
3.         nyeri abdominal atau pelvik
mual, rasa penuh pada payudara, lemah, nyeri bahu, dan dispareunia.
Penapisan dengan Mengukur Kadar β-hCG pada trimester pertama, atau keduanya
Positif (+) : Jika kadar serum  β-hCG rendah (<1000 IU/l)


USG
Bernidasi di tuba
Kehamilan Ektopik
Kehamilan Ektopik Terganggu
Abortus/Rupture
Perdarahan (+) : Cemas, Nyeri abdomen, Kekurangan Volume Cairan
Perbaikan KU
Keadaan  Stabil
LAPAROSKOPI

PENJELASAN ALUR



Trias gejala dan tanda  dari kehamilan ektopik adalah amenorrhea, perdarahan abnormal dan nyeri abdominal atau pelvik. Gejala lain yang muncul biasanya sama seperti gejala pada kehamilan muda, seperti mual, rasa penuh pada payudara, lemah, nyeri bahu, dan dispareunia. Dengan adanya tanda gejala tersebut harus diteggakkan dengan melakukan pemeriksaan β-hCG. Jika β-hCG positif (+) pada trimester pertama dan kedua dan hasil kadar serum  β-hCG rendah (<1000 IU/l) maka dicurigai adanya kehamilan ektopik.
Mendiagnosa kehamilan ektopik dapat dilakukan USG (ultrasoundgraphy), jika letak nidasi diluar cavum uteri, biasanya yang sering ditemukan pada tuba maka benar pasien tersebut mengalami kehamilan ektopik. Kehamilan ektopik jika mengalami abortus atau rupture akan memicu pedarahan sehingga cavum doglas akan terisi. Saat pemeriksaan fisik terdapat massa pada adneksa, sehingga mengakibatkan pasien mengalami kecemasan, penurunan volume cairan, dan nyeri abdomen.
Kehamilan ektopik terganggu dapat mengancam jiwa pasien jika tidak mendapatkan penanganan segera. Jika sudah menagalami abortus/ ruptur segera perbaikan keadaan umum pasien agar dapat melakukan tindakan operatif dengan cara Laparaskopi. Laparaskopi operatif dianjurkan pada keadaan di mana penderita dalam keadaan stabil. Lakukan kolaborasi dengan dr. SpOG untuk tindak lanjut.







DAFTAR PUSTAKA

Brady, Paula. (2017). New Evidence toGuide Ectopic Pregnancy Diagnosis and Management Volume 72, Number 10. Jurnal. Available at:
Hadisaputra. (2008). Penatalaksanaan Kehamilan Ektopik dengan Kajian Hasil Laparoskopi Operatif Vol 32, No 2. Jurnal. Available at: diakses tanggal 5 Desember 2017
Lee, Robert. et al. (2017). Diagnosing Ectopic Pregnancy In The Emergency Setting ISSN: 2288-5919. Jurnal. Available at: https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/29061036 diakses tanggal 5 Desember 2017
Prenaud, et al. (2017). Management  of  a  cornual  ectopic  pregnancy. Journal  of  Visceral  Surgery . available at:
https://www.ncbi.nlm.nih.gov/pubmed/29153617 diakses tanggal 5 Desember 2017
Pricilia et al. (2015). Gambaran Kehamilan Ektopik Terganggu  Di Rsup Prof. Dr. R. D. Kandou Manado  Periode 1 Januari 2012 - 31 Desember 2013 Volume 3, Nomor 2. Jurnal. Available at: