Thursday, 16 August 2018

DISTOSIA BAHU DAN PERDARAHAN PASCAPERSALINAN


ANALISIS JURNAL
Obstetric Emergencies Shoulder Dystocia And Postpartum Hemorrhage
A.      Distosia Bahu
1.        Definisi
According to the American College of Obstetricians and    Gynecologists (ACOG) 
menyatakan distosia bahu adalah ketidakmampuan               
melahirkan bahu setelah kepala dilahirkan pada persalinan normal. 
Kondisi   ini merupakan kegawatdaruratan obstetri karena bayi dapat meninggal jika    
tidak segera dilahirkan. Definisinya subyektif, suatu keadaan  diperlukannya tambahan 
manuver obstetrik oleh karena dengan tarikan biasa kearah belakang pada kepala bayi tidak 
berhasil untuk melahirkan  bayi. Definisi obyektif distosia bahu adalah jarak waktu antara lahirnya           kepala dengan lahirnya badan bayi lebih dari 60 detik.
2.        Diagnosis
        Distosia bahu dapat dikenali apabila didapatkan adanya: 
a.           Kepala bayi sudah lahir, tetapi bahu tertahan dan tidak dapat dilahirkan
b.          Kepala bayi sudah lahir, tetapi tetap menekan vulva dengan kencang atau bahkan 
tertarik kembali ( turtle sign)
c.           Dagu tertarik dan menekan perineum
d.          Traksi pada kepala tidak berhasil melahirkan bahu yang tetap tertahan di kranial 
simfisis pubis
3.        Faktor Risiko Distosia Bahu
                            Bayi cukup bulan pada umumnya memiliki ukuran bahu yang            
lebih lebar dari kepalanya, sehingga mempunyai risiko terjadi distosia bahu.              
Risiko akan meningkat dengan bertambahnya perbedaan anatara ukuran     badan 
dan bahu dengan ukuran kepalanya. Pada bayi makrosomia,   perbedaan ukuran tersebut 
lebih besar dibanding bayi tanpa makrosomia,   sehingga bayi makrosomia lebih berisiko. 
Dengan demikian, kewaspadaan       terhadap terjadinya distosia bahu diperlukan pada setiap 
pertolongan               persalinan dan semakin penting bila terdapat faktor- faktor yang             
meningkatkan risiko makrosomia seperti diabetes, obesity, prolonged            
pregnancy, excessive fetal size or maternal weight gain. Selain itu faktor         
 risiko terjadinya distosia adalah riwayat distosia sebelumnya, diabetes       
pregestational atau gestasional, multiparitas, induksi persalinan, kala I dan            
kala II persalinan memanjang, dan persalinan pervaginam yang di tolong.
                            Terlepas dari beberapa faktor risiko yang diketahui ini, perlu dicatat  
bahwa sebagian besar distosia bahu secara umum, tidak dapat diprediksi,         
dan tidak dapat dipungkiri. Gross dan rekannya melaporkan sebuah model     
matematis yang menunjukkan bahwa hanya 16% dari semua distosia bahu    
dengan trauma neonatal bersamaan bisa diprediksi. Meskipun ini beberapa             
faktor risiko yang di ketahui perlu dicatat bahwa sebagian distosia bahu       jarang tak terduga.
4.        Pencegahan
                     Belum ada cara untuk memastikan akan terjadinya distosia bahu       
pada suatu persalinan. Meskipun sebagian besar distosia bahu dapat di         
tolong tanpa morbiditas, tetapi apabila menjadi komplikasi dapat            
menimbulkan kekecewaan dan berpotensi terjadi tuntutan terhadap  penolong persalinannya. 
Untuk itu perlu mengetahui faktor- faktor   terjadinya distosia bahu dan mengkomunikasikan 
akibat yang akan terjadi           pada ibu serta keluarganya. Upaya pencegahan distosia bahu 
dan cidera          yang dapat ditimbulkannya dapat dilakukan dengan cara:
a.          Menawarkan pada ibu dan keluarga untuk dilakukan bedah sesar pada persalinan 
vaginal berisiko tinggi seperti janin besar > 5 kg, janin besar > 4.5 kg dengan ibu diabetes, 
janin besar > 4 kg dengan riwayat distosia bahu sebelumnya, kala II yang memanjang 
dengan janin besar.
b.          Identifikasi dan mengobati diabetes pada ibu
c.          Selalu siap bila sewaktu- waktu terjadi
d.         Kenali adanya distosia seawal mungkin. Upaya mengejan, menekan suprapubis 
atau fundus, dan traksi berpotensi meningkatkan risiko cidera pada janin.
e.          Perhatikan waktu dan segera meminta tolong begitu distosia diketahui. 
Bantuan diperlukan untuk membantu posisi McRobert, pertolongan persalinan, 
resusitasi bayi, dan tindakan anestesi (bila perlu).
5.        Penatalaksanaan 
                     Langkah pertama menurut RCOG, adalah untuk minta bantuan         
tambahan Tim pendukung mungkin termasuk perawat tambahan, bidan,             
dokter kandungan, subspesial obat maternal-janin, tim resusitasi neonatal,         
dan ahli anestesi. Ketika asisten tambahan tiba, mereka harus diberi tahu       
dengan jelas bahwa ini adalah situasi distosia bahu.
a.     Lakukan manuver McRobert. Dalam posisi ibu berbaring terlentang,        
mintalah ia untuk menekuk kedua tungkainya dan mendekatkan             
lututnya sejauh mungkin ke arah dadanya.
b.    Mintalah bantuan asisten untuk melakukan tekanan secara simultan          
kearah lateral bawah pada daerah suprasimpisis untuk membantu          
persalinan bahu.
c.     Jika bahu masih belum dapat dilahirkan. Lakukan episiotomi untuk          
memberi ruang yang cukup untuk memudahkan manuver internal. 
d.    Melakukan penekanan disisi posterior pada bahu posterior untuk              
mengadduksikan bahu dan mengecilkan diameter bahu. Rotasikan         
bahu kediameter roblik untuk membebaskan distosia bahu. Jika                   
diperlukan lakukan pula penekanan pada sisi posterior bahu anterior              
dan rotasikan bahu ke diameter oblik
e.     Jika bahu masih belum dapat dilahirkan masukkan tangan kedalam          
vagina, kemudian temukan humerus dari lengan posterior lalu sembari   
menjaga lengan tetap fleksi pada siku, pindahkan lengan kearah dada.    
Raih pergelangan tangan bayi dan tarik lurus kearah vagina. Manuver            
ini memberi ruang pada bahu anterior agar dapat melewati bawah                 
simfisis pubis.
f.     Jika semua tindakan diatas tidak dapat melahirkan bahu, terdapat            
manuver- manuver laing yang dapat dilakukan, misalnya klediotomi,          
simfisiotomi, metode sling atau manuver zavanelli. Namun manuver-          
manuver ini hanya boleh dilakukan oleh tenaga yang terlatih dan ahli.
                     Beberapa cara dalam mengatasi distosia bahu yaitu dengan                
manajeman ALARMER dan 4P antara lain:
a.     Ask for help / Meminta bantuan 
        Diperlukan penolong tambahan untuk melakukan manuver McRoberts  
dan penekanan suprapubik. Menyiapkan penolong untuk resusitasi              
neonatus.
b.        Lift hyperflexed (McRoberts maneuvre)
Disiapkan masing-masing satu penolong di setiap sisi kaki ibu untuk 
membantu hyperfleksi kaki dan sekaligus mengabduksi panggul 
Memposisikan sakrum ibu lurus terhadap lumbal.
c.         Anterior shoulder disimpaction (suprapubic pressure)
          Bahu bayi yang terjepit didorong menjauh dari midline ibu, ditekan      
pada atas simfisis pubis ibu (Massanti maneuver). Tekanan suprapubik          
ini dilakukan untuk mendorong bahu posterior bayi agar dapat                                                                     dikeluarkan dari jalan lahir dengan mendorong bahu depan kearah                                                                   dada dan menghasilkan diameter terkecil (Rubin maneuver)
d.        Rotation of the posterior shoulder (Wood’s screw maneuver)
          Digunakan 2 jari untuk menekan sisi anterior bahu dan memutarnya      
hingga 1800 atau oblique, dapat diulang jika diperlukan.
e.         Manual removal of the posterior arm (Schwartz maneuver)
          Ditentukan siku lengan posterior bayi, difleksikan dengan tekanan        
pada fossa antecubital sehingga tangan bayi dapat dipegang. Tangan     
tersebut kemudian ditarik hingga melewati dada bayi sehingga                                                                keseluruhan lengan dapat dilahirkan.
f.         Episiotomy
          Prosedur ini secara tidak langsung membantu penanganan distosia        
bahu,dengan memungkinkan penolong untuk meletakkan tangan                      
penolong ke dalam vagina untuk melakukan manuver lainnya.
g.        Roll over onto all fours
          Langkah ini memungkinkan posisi bayi bisa bergeser dan terjadi            
disimpaksi bahu anterior. Hal ini juga memungkinkan akses yang lebih mudah untuk
 memutar bahu posterior atau bahkan melahirkannya langsung.
              Jika manuver tersebut tidak ada yang berhasil, bisa disarankan untuk 
mematahkan klavikula bayi, simpisiotomi, manuver Zavanelli. Bila distosia bahu
 telah berhasil ditangani, maka dilakukan: penilaian bayi untuk mengetahui adanya
 trauma, analisa gas darah tali pusat, penilaian ibu untuk tears pada saluran genital,
 manajemen aktif kala III untuk mencegah perdarahan postpartum, mencatat manuver 
yang telah dilakukan, dan menjelaskan semua langkah yang telah dilakukan kepada ibu 
dan keluarg yang mungkin ada pada saat dilakukan penanganan. 
 
 
              Dalam pertolongan persalinan dengan distosia bahu ada 4 P yang perlu di hindari:
a.         Panic
b.        Pulling (menarik kepala)
c.         Pushing (mendorong pada fundus)
d.        Pivoting (memutar kepala secara tajam dengan koksigis sebagai tumpuan)
6.        Komplikasi
                     Komplikasi distosia bahu pada janin adalah fraktur tulang (klavikula                
dan humerus), cidera pleksus brakhialis, dan hipoksia yang menyebabkan   kerusakan 
permanen di otak. Dislokasi tulang servikalis yang fatal juga               
dapat terjadi akibat melakukan tarikan dan putaran pada kepala dan leher.    
Fraktur tulang pada umumnya dapat sembuh sempurna tanpa sekuele,                
 apabila didiagnosis dan dan diterapi dengan memadai. Cedera pleksus                
brakhialis dapat membaik dengan berjalannya waktu. Pada ibu komplikasi    
yang dapat terjadi adalah perdarahan akibat laserasi jalan lahir, episiotomi,      
ataupun atonia uteri.
 
B.       Perdarahan Pascapersalinan
1.        Definisi
Perdarahan pascapersalinan adalah perdarahan yang masif yang 
berasal dari tempat implantasi plasenta, robekan pada jalan lahir, 
dan jaringan sekitarnya dan merupakan salah satu penyebab kematian 
ibu. Perdarahan pascapersalinan primer terjadi dalam 24 jam pertama 
setelah persalinan, sementara perdarahan pascapersalinan sekunder adalah 
perdarahan pervaginam yang lebih banyak dari normal antara 24 jam hingga 
12 minggu setelah persalinan. Diagnosis dari perdarahan pascapersalinan 
apabila perdarahan ≥ 500 ml setelah bayi lahir atau berpotensi mempengaruhi
 hemodinamik ibu.
2.        Faktor Predisposisi
a.           Kelainan implantasi dan pembekuan plasenta: plasenta previa, solutio   
plasenta, plasenta akreta/inkreta/perkreta, kehamilan ektopik, mola                                             hidatidosa.
b.          Trauma pada saat kehamilan dan persalinan: episiotomi, persalinan       
 pervaginam dengan isntrumen forsep, bekas seksio sesar atau                                                                         histerektomi.
c.           Volume darah ibu yang kurang terutama pada ibu dengan berat badan  
kurang, preeklamsia/eklamsia, sepsis atau gagal ginjal, 
d.          Gangguan koagulasi
e.           Pada atonia uteri, penyebabnya antara lain uterus overdistensi (makrosomia, 
kehamilan kembar, hidramnion, atau bekuan darah), induksi persalinan, persalinan lama, 
persalinan terlalu cepat, dan  riwayat atonia uteri sebelumnya.
3.        Penatalaksanaan
Pada penatalaksanaan perdarahan dilakukan sesuai dengan penyebab perdarahan, 
namun untuk penatalaksanaan awal antara lain:
a.             Meminta tolong tim untuk melakukan tatalaksana secara simultan
b.             Nilai sirkulasi, jalan nafas, dan pernafasan pasien
c.             Bila terjadi syok lakukan penanganan syok
d.            Memberikan oksigen
e.             Memasang infus dengan carian kristaloid
f.              Jika fasilitas tersedia, lakukan pengambilan sampel darah
g.             Lakukan observasi (Tekanan darah, nadi, suhu, pernafasan ibu, kontraksi uterus, nyeri 
tekan, tinggi fundus uteri, cek jumlah  perdarahan, dan pengeluaran urin)
C.      Rekomendasi
Distosia bahu dan perdarahan pascapersalinan merupakan dua yang paling umum 
keadaan darurat yang dihadapi dalam praktik klinis kebidanan, keduanya membutuhkan 
penatalaksanaan segera dan manajemen untuk menghindari morbiditas dan mortalitas 
yang signifikan. Meskipun pasti risiko distosia bahu dan perdarahan pascapersalinan 
ada, banyak kasus terjadi pada tidak adanya faktor-faktor ini identifikasi dini, 
komunikasi, dan ketepatan dengan pilihan pengelolaan untuk kedua kondisi tersebut 
dapat secara signifikan meminimalkan morbiditas terkait dengan komplikasi ini.
Dalam artikel review tentang definisi dan kejadian distosia bahu di antara 28 publikasi 
dengan lebih dari 16 juta kelahiran total, presentasi distosia bahu adalah 0,4%. 
Sejak tahun 2000, dari semua kelahiran, tingkat distosia bahu mendekati 1.4% jika 
publikasi bergantung pada International Classification of Diseases (ICD). 
Perdarahan pascapersalinan terjadi pada sekitar 4% sampai 6% dari semua kehamilan. 
Royal College of Obstetricians and Gynecologists (RCOG) memperkirakan 3 dari 
1000 mengalami pendarahan parah, yang didefinisikan sebagai penerimaan transfusi 
darah, histerektomi atau perbaikan bedah rahim. Pendarahan pascapersalinan, sejauh 
ini penyebab paling umum adalah atonia uteri atau ketidakmampuan uterus 
berkontraksi secara efektif, yang menyumbang lebih dari 80% kasus. 
Penyebab umum lainnya termasuk jaringan plasenta yang tertahan, trauma 
vagina atau serviks, dan diketahui atau berkembangnya koagulopati.
Dalam kasus distosia bahu dan perdarahan pascapersalinan, bidan harus 
mampu meningkatkan kemampuan dalam skreening kehamilan untuk mengetahui 
lebih awal kemungkinan terjadinya distosia bahu yang nantinya akan menjadi faktor 
predisposisi terjadinya perdarahan pascapersalinan. Dengan pemeriksaan rutin di 
bidan dan melakukan pemeriksaan USG dengan dokter spesialis obstetri dan ginekologi, 
terutama pada wanita yang memilki kehamilan dengan riwayat distosia bahu 
sebelumnya atau penyulit lainnya, untuk mengurangi insidens perdarahan 
pascapersalinan pendekatan yang berbeda dapat diterapkan, bergantung pada 
lingkungan dan ketersediaan dari pendamping persalinan yang terlatih dan persediaan 
yang ada. Manajemen aktif dari kala tiga persalinan (AMTSL) dengan seluruh 
pendamping persalinan terlatih. Komponen yang biasa terdapat pada AMTSL 
termasuk pemasukan oxytosin atau obat uterotonik lainnya dalam 1 menit setelah 
persalinan, traksi tali pusat terkendali, pemijatan uterus setelah pengeluaran plasenta. 
AMTSL merupakan salah satu cara yang efektif dan sederhana serta masih diterapkan 
sampai sekarang untuk pencegahan perdarahan pascapersalinan. Semakin tingginya 
angka kematian ibu dengan salah satu penyebabnya adalah perdarahan, diharapkan
 tenaga kesehatan mampu mengembangankan lagi ilmu- ilmu kesehatan.
 
Sumber:
Dahlke, Joshua D. Bhalwal, Asha. Chauhan, Suneet P. 2017. Obstetric Emergencies Shoulder Dystocia And Postpartum Hemorrhage.Obstetrics and Gynecology Clinics of North America, Volume 44, Issue 2, June 2017, Pages     231-243[diakses tanggal 15 Oktober 2017 pukul 20.45 WIB dalam Elsevier]
Medical Mini Notes Production. 2014. Obstetric Make It Easy with Medical Mini   Notes   Jakarta: Medical Mini Notes Production
Prawirohadjo, Sarwono. 2010. Ilmu Kebidanan. Jakarta: yayasan Bina Pustaka       Sarwono Prawirohadjo

FAKTOR PENYEBAB KEMATIAN IBU DALAM EKLAMPSIA


ANALISIS JURNAL
Eklampsia merupakan penyebab utama kematian ibu di India. Eklampsia dapat menyebabkan komplikasi baik bagi ibu dan bayinya. Penyabab eklampsia antara lain umur, parietas, keadaan sosial ekonomi, pemeriksaan antenatal, riwayat kejang, dan faktor penyerta lainnya. Pendeteksian  preeklamsi yaitu dengan pemeriksaan urine protein, Hb lengkap, pemeriksaan hati, pemeriksaan ginjal dan koagulasi. Kehamilan bisa terhenti akibat eklampsia terlepas dari usia gestasional.
Eklampsia dapat diobati menggunakan MgSO4 diberikan 10 menit setelah pasien dating atau jika sudah kejang bisa langsung segera diberikan. Hipertensi bisa dikontrol dengan nukleus sublingual / intranasal / oral dan labetalol oral. Hipertensi sebagian besar dikelola dengan nifedipin sublingual atau intranasal dan kadang-kadang dengan labetalol intravena (IV) (karena faktor biaya hipertensi sebagian besar dikelola dengan sublingual / intranasal nifedipine bukan labetalol IV).
Berdasarkan hasil penelitian yang dilakukan didapatkan faktor penyebab kematian ibu yang mengalami eklampsia adalah kondisi sosial ekonomi miskin, pengetahuan rendah, dan tingkat kesadaran yang rendah. Penyebab kematian ibu pada penelitian ini yaitu pendarahan otak, edema paru, PPH traumatis setelah melahirkan forcep, koma hepatik, aspirasi, septikemia dan gagal ginjal akut.

Sumber:

Aparna Khan. 2014. Analysis of the causes of maternal death in eclampsia. (online), (www.iosrjournals.org) diakses tanggal 15 Oktober 2017.

ABORTUS/ KEGUGURAN


ANALISIS JURNAL
DEFINISI
Aborsi adalah keadaan terputusnya suatu kehamilan dimana fetus belum sanggup hidup sendiri diluar uterus, belum sanggup diartikan apabila fetus itu beratnya terletak antara 400-1000 gram, atau usia kehamilan kurang dari 28 minggu. Aborsi adalah pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup diluar kandungan.
Selain itu aborsi atau abortus adalah ancaman atau pengeluaran hasil konsepsi sebelum janin dapat hidup diluar kandungan. Sebagai batasan ialah kehamilan kurang dari 20 minggu atau berat janin lebih dari 500 gram. Abortus yang berlangsung tanpa tindakan disebut abortus spontan, sedangkan abortus dengan sengaja dilakukan tindakan disebut abortus provokatus.
Bentuk abortus dibagi menurut terjadinya abortus spontan ( abortus provokatus, kriminalis, medisinalis) dan menurut bentuk klinis (abortus iminens, abortus insipiens, abortus inkompkletus, abortus habitualis, abortus yang tertahan (missed abortion), abortus infeksiosus.
1.      Abortus provokatus (indoset abortion) adalah aborsi yang disengaja baik dengan memakai obat-obatan maupun alat-alat, ini terbagi menjadi dua:
a.       Abortus provocatus medicinalis adalah aborsi yang dilakukan oleh dokter atas dasar indikasi medis, yaitu apabila tindakan aborsi tidak diambil akan membahayakan jiwa ibu.
b.      Abortus provocatus criminalis adalah aborsi yang terjadi oleh karena tindakan-tindakan yang tidak legal atau tidak berdasarkan indikasi medis, sebagai contoh aborsi yang dilakukan dalam rangka melenyapkan janin sebagai akibat hubungan seksual di luar perkawinan.
2.      Abortus komplet adalah Seluruh hasil konsepsi telah keluar dari rahim pada kehamilan kurang dari 20 minggu.
3.      Abortus Inkomplet adalah abortus diamna sebagian hasil konsepsi telah keluar dari rahim dan masih ada yang tertinggal
4.      Abortus Insipiens adalah abortus yang sedang mengancam yang ditandai dengan serviks yang telah mendatar, sedangkan hasil konsepsi masih berada lengkap di dalam rahim.
5.      Abortus Iminens adalah abortus tingkat permulaan, terjadi perdarahan per vaginam, sedangkan jalan lahir masih tertutup dan hasil konsepsi masih baik di dalam rahim
6.      Missed Abortion adala abortus yang ditandai dengan embrio atau fetus terlah meninggal dalam kandungan sebelum kehamilan 20 minggu dan hasil konsepsi seluruhnya masih dalam kandungan
7.      Abortus Habitualis adalah abortus yang terjadi sebanyak tiga kali berturut turut atau lebih.
8.      Abortus Infeksiosus adalah abortus  yang disertai infeksi genital.
Dalam jurnal internasional yang dianalisa ini akan dibahas mengenai aborsi induksi yang berulang.  Aborsi yang diinduksi dalam penelitian ini mengacu pada aborsi yang diinduksi dengan cara yang tidak aman di luar fasilitas kesehatan dan dimana wanita menerima perawatan pasca  aborsi di fasilitas kesehatan setelah terjadi komplikasi. Dengan kata lain abortus provocatus criminalis.
Dalam jurnal ini terdapat studi yang menunjukkan bahwa meskipun ada efek buruk pada kesehatan, proporsi yang signifikan dari wanita mendapatkan lebih dari satu aborsi selama masa reproduksi mereka.

FAKTOR RESIKO
Faktor resiko yang diduga berhubungan dengan terjadinya abortus antara lain adalah Usia ibu yang lanjut, Riwayat obstetri / ginekologi yang kurang baik, Riwayat infertilitas, Adanya kelainan / penyakit yang menyertai kehamilan (misalnya diabetes, penyakit gh Imunologi sistemik dsb), berbagai macam infeksi (variola, CMV, toxoplasma, dsb), paparan dengan berbagai macam zat kimia (rokok, obat-obatan, alkohol, radiasi, dsb), trauma abdomen / pelvis pada trimester pertama, dan  kelainan kromosom (trisomi / monosomi).
Dalam jurnal ini terdapat penelitian tentang faktor yang terkait dengan aborsi berulang yang diinduksi. Studi tentang aborsi terutama berfokus pada faktor-faktor terkait dengan aborsi yang diinduksi sambil mempertimbangkan aborsi yang diinduksi sebelumnya sebagai salah satu faktor risiko.
Studi yang jauh dari tempat lain di dunia menunjukkan beberapa hal yang dapat menjadi faktor resiko terjadinya hal tersebut antara lain usia, paritas dan penggunaan kontrasepsi dikaitkan dengan risiko aborsi berulang
Menurut data sekitar 16% wanita yang mencari layanan aborsi untuk aborsi yang diinduksi dilaporkan telah mengalami sebelumnya aborsi yang diinduksi baik karena Berpisah atau bercerai atau janda, tidak memiliki pendidikan, memiliki kehamilan yang tidak diinginkan, memiliki 1-2 kelahiran sebelumnya dan menggunakan metode kontrasepsi tradisional dikaitkan dengan kemungkinan pengulangan aborsi yang diinduksi lebih tinggi.
Berdasarkan jurnal ini ada  beberapa faktor resiko yang menjadi  variabel bebas untuk diteliti dalam jurnal tersebut meliputi: umur, tempat tempat tinggal, status perkawinan, tingkat pendidikan yang diraih, jumlah kelahiran hidup, keinginan hamil, gestasional usia, dan kontrasepsi pada saat pembuahan.
Proporsi wanita yang pernah melakukan aborsi sebelumnya tertinggi di antara mereka yang berusia 20-24 tahun sementara proporsi wanita memiliki aborsi induksi pertama kali tertinggi di antara mereka yang berusia 10-19 tahun (93%). Wanita yang dipisahkan/ bercerai/ janda enam kali lebih mungkin mengalami aborsi sebelumnya dibandingkan wanita lajang yang belum pernah menikah.
Wanita dengan kehamilan yang tidak diinginkan dan mereka yang menginginkannya kehamilan kurang kemungkinan memiliki aborsi sebelumnya dibandingkan dengan yang yang kehamilannya diinginkan. Dibandingkan dengan wanita dengan tidak ada pendidikan, wanita dengan pendidikan cenderung tidak pernah melakukan aborsi sebelumnya. Sedangkan wanita dengan 1-2 kelahiran hidup sebelumnya 2 kali lebih mungkin memiliki aborsi sebelum dibandingkan dengan wanita yang tidak memiliki kelahiran hidup sebelumnya.
Sedangkan untuk wanita yang tidak menggunakan metode kontrasepsi pada saat  konsepsi, wanita menggunakan metode tradisional kontrasepsi dan wanita dengan metode short-acting (walaupun tidak signifikan) adalah sembilan kali  dan dua kali) masing-masing lebih memungkinan memiliki aborsi sebelum wanita tidak menggunakan metode kontrasepsi pada saat pembuahan.
Pada dasarnya aborsi yang diinduksi atau aborsi yang dilkukan secara tidak aman baik dalam tahap pertama kali ataupun berulang umunya disebabkan karena kehamilan yang tidak diinginkan. Ada beberapa alas an wanita tidak menginginkan kehamilannya. Antara lain sebagai berikut :
1.    Kegagalan kontrasepsi
Kehamilan yang tidak diinginkan juga banyak terjadi karena kurangnya informasi tentang kesehatan reproduksi dan penggunaan alat KB. Pemahaman dan akses untuk menggunakan alat kontrasepsi yang kurang akhirnya memicu kehamilan yang tidak diinginkan. KTD lebih banyak terjadi pada pasangan yang sudah menikah sekitar 89 % artinya kehamilan tersebut lebih banyak karena gagal perencanaan keluarga.
2.    Kehamilan diluar nikah
Kehamilan di luar nikah banyak terjadi pada kelompok remaja, disebabkan karena pergaulan yang sangat bebas bagi remaja. Tingginya tingkat kehamilan diluar nikah yang berhubungan secara positif dengan tindakan aborsi menjadi bukti yang sulit dibantah. Survey yang dilakukan oleh Badan Kordinasi Keluarga Berencana Nasional (BKKBN) pada tahun 2007 sangat mengejutkan yaitu 63 % remaja SMP dan SMA di Indonesia pernah berhubungan seks, sebanyak 21% diantaranya melakukan aborsi.
3.    Alasan psikososial dimana ibu sendiri sudah enggan/tidak mau  untuk punya anak lagi.
4.    Masalah ekonomi, menambah anak berarti menambah beban ekonomi keluarga.
5.    Masalah sosial, misalnya khawatir adanya penyakit turunan,janin cacat.
6.    Kehamilan yang terjadi akibat pemerkosaan atau akibat incest (hubungan antar keluarga).
7.    Ketidak tahuan atau minimnya pengetahuan tentang perilaku seks yang dapat menyebabkan kehamilan.
8.    Alasan karir atau masih sekolah (karena kehamilan dan konsekuensi lainnya yang dianggap dapat menghambat karir atau kegiatan belajar).

EFEK SAMPING
Berdasarkan jurnal tersebut Sekitar 14% kematian ibu di Afrika disebabkan oleh aborsi yang tidak aman dan hampir dua juta wanita di Afrika dirawat di rumah sakit setiap tahun karena komplikasi akibat aborsi yang tidak aman. Efek samping lainnya terkait dengan aborsi meliputi perdarahan berat, infeksi, trauma, dan gagal ginjal.
Aborsi atau abortus dapat mengakibatkan hal-hal negatif pada tubuh wanita yang melakukannya, yang meliputi dimensi jasmani dan psikologi, akibat-akibatnya yaitu :
1.      Sudut jasmani
a.    Kematian karena perdarahan
Perdarahan yang hebat dari vagina adalah masalah yang paling banyak terjadi setelah abortus. Biasanya disebabkan oleh tertinggalnya jaringan kehamilan dalam rahim. Rahim tidak mampu untuk memeras dan menutup sendiri sehingga perdarahan terus berlangsung. Kadang-kadang perdarahan disebabkan oleh robeknya mulut rahim yang harus segera dijahit kembali untuk menghentikan perdarahan.
b.    Kematian karena pembiusan yang gagal.
c.    Kematian secara lambat akibat infeksi serius disekitar kandungan
d.    Rahim yang robek ( uterine Perforation)
e.    Kerusakan leher rahim (cervical lacerations) yang akan menyebabkan cacat pada anak berikutnya.
f.      Kanker payudara (karena ketidak seimbangan hormon estrogen pada wanita).
g.     Kanker indung telur (Ovarian cancer).
h.     Kanker leher rahim (Cervical cancer).
i.       Kanker hati (Liver cancer).
j.      Kelainan pada placenta atau ari-ari yang akan menyebabkan cacat pada anak berikutnya dan perdarahan hebat pada saat kehamilan berikutnya.
k.    Menjadi mandul atau tidak mampu memiliki keturuna lagi (Ectopic pregnancy).
l.       Infeksi rongga panggul (Pelvic Inflammatory Disease).
m.   Infeksi pada lapisan rahim (Endometriosis).
2.      Sudut Psikologi
a.       Pihak Wanita
Setelah wanita melakukan tindakan aborsi maka ia akan tertindih perasaan bersalah yang dapat membahayakan jiwanya, kalau tidak secepatnya ditolong maka ia akan mengalami depresi berat, frustasi dan kekosongan jiwa atau akan mengalami “Post abortion syndrom (sindrom paska aborsi)” yaitu:  Kehilangan harga diri (82%), Mimpi buruk berkali-kali mengenai bayi (63%), Tidak bisa menikmati lagi hubungan seksual (59%),  Histeris (51%), Mencoba obat-obatan terlarang (41%), Ingin melakukan bunuh diri (28%)
b.      Pihak Pria
Rasa tanggung jawab dari si pria yang menganjurkan aborsi akan berkurang, pandangannya tentang nilai hidup sangat rendah, penghargaannya terhadap anugerah Allah menjadi merosot.

PENATALAKSANAAN
Adapun penatalaksanaan aborsi yang di induksi sama dengan penatalaksanaan Abortus Provokatus krimanlis adalah sebagai berikut :
a.       Memperbaiki keadaan umum, bila perdarahan banyak berikan transfusi darah dan cairan yang cukup
b.      Pemberian antibiotika yang cukup tepat
c.       Suntikkan penisilin 1 juta satuan tiap 6 jam
d.      Suntikkan streptomisin 500 mg setiap 12 jam atau suntikkan antibiotika spektrum luas lainnya
e.       Dua puluh empat sampai empat puluh delapan jam setelah dilindungi dengan antibiotika atau lebih cepat bila terjadi perdarahan yang banyak lakukan dilatasi dan kuretase untuk mengeluarkan hasil konsepsi.
f.       Pemberian infus dan antibiotika diteruskan menurut kebutuhan dan kemajuan penderita.
g.      Semua pasien abortus disuntik serap tetanus 0,5 cc IM. Umumnya setelah tindakan kuretase pasien abortus dapat segera pulang kecuali  bila ada komplikasi seperti perdarahan banyak yang menyebabkan anemia berat dan infeksi.
h.      Pasien dianjurkan istirahat selama 1 atau 2 hari. Pasien dianjurkan kembali kedokter bila pasien mengalami kram demam yang memburuk atau nyeri setelah perdarahan baru yang ringan atau gejala yang lebih berat.

Adapun penatalaksanaan pasca abortus antara lain sebagai berikut :
a.       Pemeriksaan lanjut untuk mencari penyebab abortus. Perhatikan juga involusi uterus dan kadar B hCG 1-2 bulan kemudian.
b.      Pasien dianjurkan jangan hamil dulu selama 3 bulan kemudian (jika perlu, anjurkan pemakaian kontrasepsi kondom atau pil).

UPAYA PENANGULANGAN
Untuk mengatasi dampak kesehatan dari aborsi yang tidak aman sebagai perhatian utama masyarakat dan untuk mengurangi jalannya untuk melakukan aborsi melalui perluasan dan perbaikan layanan keluarga berencana. Pencegahan kehamilan yang tidak diinginkan harus selalu diberi prioritas tertinggi dan setiap usaha harus dilakukan untuk menghilangkan kebutuhan akan abortus.
Wanita yang memiliki kehamilan yang tidak diinginkan harus memiliki akses terhadap informasi terpercaya dan konseling belas kasih. Konsultasi pasca aborsi, layanan pendidikan dan keluarga berencana harus ditawarkan segera, yang juga akan membantu menghindari aborsi yang berulang. Penggunaan kontrasepsi modern yang efisien dan benar memiliki potensi nyata untuk mengurangi kehamilan yang tidak diinginkan dan ulangi aborsi.
Temuan penelitian ini menunjukkan fakta bahwa keluarga berencana memiliki waktu yang lama untuk mengatasi masalah kehamilan yang tidak diinginkan di Kenya. Selain itu untuk mengatasi alasan mengapa wanita dengan aborsi induksi pertama kali dilakukan tidak memiliki informasi yang diperlukan untuk mencegah kehamilan yang tak diinginkan dan aborsi yang diinduksi lebih lanjut.
Banyak fasilitas kesehatan di Kenya tidak mengintegrasikan pos layanan aborsi dan layanan keluarga berencana serta sistem rujukan tidak dirancang dengan cukup baik untuk menghindari kesulitan pada wanita yang membutuhkan kontrasepsi. Informasi komprehensif dan terpadu tentang kontrasepsi sebaiknya permanen dan jangka panjang. Metode harus ditawarkan secara sistematis kepada kaum muda dan wanita yang lebih tua yang mencari layanan pasca aborsi disemua fasilitas umum dan swasta di Kenya. Fasilitas yang ditawarkan yaitu layanan perawatan pasca aborsi harus mendorong wanita menggunakan metode kontrasepsi modern dan terutama metode long acting dan juga mengecilkan penggunaan metode tradisional yang terbukti tidak efektif.

REKOMENDASI
 Untuk menurunkan resiko kematian karena abortus adalah dengan menurunkan keinginan perempuan terhadap aborsi tidak aman. Ada beberapa hal yang dapat direkomendasikan untuk masalah aborsi tersebut.
Untuk perempuan yang telah menikah kontrasepsi yang efektif merupakan cara paling manjur untuk mencegah kehamilan yang tidak diinginkan dan oleh karena itu, pencegahan abortus dapat dimungkinkan bila pemerintah menyediakan fasilitas keluarga berencana yang berkualitas dilengkapi dengan konseling. Konseling keluarga berencana dimaksudkan untuk membimbing wanita membuat keputusan tentang penggunaan salah satu metode kontrasepsi tanpa menghakimi serta memberitahukan resiko-resiko yang mungkin timbul dari abortus.
Untuk remaja pencegahan Kehamilan yang tidak diinginkan pada remaja dapat dilakukan dengan beberapa cara yaitu dengan Pemberdayaan keluarga, keluarga sangat memiliki peran dalam tumbuh kembang anak, keluarga yang baik tentu akan tanggap terhadap kebutuhan anak dalam setiap tahap perkembangannya, ketika anak beranjak pada masa pubertas sebaiknya keluarga tidak lagi memandang tabu tentang perilaku seks. Ajarkanlah anak tentang pendidikan seks yang benar sehingga diharapkan anak akan memahami dan mengerti apa yang sebaiknya ia lakukan dan akan senantiasa menghindari perilaku seks yang tidak benar.
Selain itu, kebanyakan orang khusunya remaja melakukan sex bebas asal dasar keingintahuan tentang sex tetapi mereka kebanyakan malah tidak tahu dampak yang akan terjadi ketika mereka melakukan sex bebas. Untuk itu perlu upaya khusus dari pihak-pihak terkait untuk memberikan gambaran tentang kesehatan reproduksi yang dapat mengancam seseorang.
Agama juga telah memberikan batasan-batasan bagi penganutnya untuk bergaul dan bersosialisasi dengan lawan jenis, dengan mempelajari dan mengamalkan ajaran agama sebaik-baiknya niscaya seseorang akan lebih terhindar dari perilaku yang menjurus pada sex bebas.
Remaja juga sedapat mungkin menjauhi hal yang berbau pornografi. Setiap remaja sebaiknya memiliki aktivitas positif, seseorang yang memiliki banyak kegiatan positif akan lebih selamat dari perilaku sex bebas dibandingkan seseorang yang tidak memiliknya.

Sumber:
Maina, B.W., Michael, M.M., dan Estelle, M.S. 2015. Factors Associated with Repeat Induced Abortion in Kenya. BMC Public Health 15: 1048

ABORTUS (KEGUGURAN)


ANALISIS JURNAL
Keguguran didefinisikan sebagai hilangnya kehamilan yang diketahui sebelum dua puluh minggu selesai. Dalam jurnal ini menyatakan bahwa tidak semua perdarahan pada kehamilan adalah gawat darurat. Semua kembali tergantung kepada ciri-ciri darah yang keluar meliputi waktu, banyak, warna, lama dan tingkat nyeri dan tingkat durasi keluarnya. Dalam penelitian ini mengatakan bahwa dari 4539 adalah wanita yang berusia 18-45 yang terdaftar di Right From the Start di sebuah studi berbasis masyarakat (2000-2008) subjek 8% mengatakan yang mengalami perdarahan berat, 28% mengalami rasa sakit, 54% mengatakan nyeri selama kurang dari 3 hari dan paling banyak antara umur kehamilan 5-8 minggu. 13% mengalami abortus komplit.
Dalam penelitian ini mengungkapkan bahwa faktor Studi ini menemukan bahwa wanita yang lebih tua dengan paparan merokok pasif, riwayat kelahiran prematur, riwayat keguguran sebelumnya. Dalam penekitian ini subjek penelitian harus mengetahui karakteriktik dari perdarahan yang keluar seperti warna dan tingkat nyeri. Terdapat bebeberapa karakteristik dalam jurnal penelitian ini yaitu meliputi aktor demografi (umur, ras / etnis, pendidikan, status perkawinan, persentase tingkat kemiskinan [sesuai dengan pedoman kemiskinan 2008, menghitung jumlah orang dalam rumah tangga]), indeks massa tubuh pra-kehamilan, siklus menstruasi, morbiditas ibu (infeksi saluran reproduksi selama kehamilan dan diabetes), perilaku ibu (merokok aktif dan pasif, penggunaan vitamin prenatal, asupan alkohol, asupan kafein), dan riwayat obstetrik sebelumnya (paritas, graviditas, riwayat keguguran, aborsi yang diinduksi, atau kelahiran prematur) dan USG kehamilan awal termasuk skrining sistematis untuk fibroid uterus (diameter ≥ 0,5 cm) (11).
Hasil penelitian kami menunjukkan bahwa perdarahan awal kehamilan jarang meniru perdarahan menstruasi. Kesalahan usia gestasional sebelumnya dikaitkan dengan perdarahan awal kehamilan; (19) Namun, mayoritas wanita dalam penelitian kami melaporkan adanya perdarahan yang ringan, berdurasi pendek, dan jarang menyerupai berat siklus menstruasi yang biasa. Usia gestasi gestasional diverifikasi dengan ultrasound, dan validasi validasi kehamilan yang sedang berlangsung di RFTS 1 menemukan bahwa perbedaan rata-rata antara usia gestasi berdasarkan LMP yang dilaporkan sendiri dan ultrasound kurang dari satu hari (20).

Sumber:

Hasan, R., Donna, D.B., Amy, H.H., Andrew, F.O., Michele, L.J.F., dan Katherine, E.H. Patterns and predictors of vaginal bleeding in the first trimester of pregnancy